Cinta Tanah Air Kerinduan dari Anak Bangsa di Seberang Sana
Sumber gambar: geotimes.co.id
in

Cinta Tanah Air: Kerinduan dari Anak Bangsa di Seberang Sana

UGET UGET – Cinta tanah air menjadi pengakuan yang sering kita dengar dari rakyat Indonesia. Cinta di sini adalah bagian dari ketenangan hidup di negeri sendiri. Kedamaian hidup di negara tempat kita dilahirkan.

Namun, pernahkah kita mengeluhkan kekacauan di negeri ini? Tentu. Sekecil apapun itu. Meski begitu, rasa cinta tanah air tetap ada, dan tidak berkurang begitu saja.

Saya mendengar banyak cerita dari kawan-kawan yang saat ini pergi ke negeri seberang. Berada di negeri orang. Mereka sering mengucap rindu untuk negeri ini. Ada yang bilang lebih enak hidup di Indonesia, ada pula yang bilang, “Di sini enak, tapi teteplah kangen sama negeri sendiri”. Intinya, merindukan tanah air itu pasti.

Sekecil apapun hal yang ada di Indonesia bisa saja menjadi alasan bagi para perantau untuk merindukannya. Sebut saja soal makanan. Tentu akan ada makanan Indonesia yang tidak bisa ditemui di negara lain. Kalaupun ada, bisa jadi rasanya berbeda.

Saya, yang masih setia ada di Indonesia kadang berpikir, apakah nanti jika saya diberi kesempatan hidup di luar negeri sana, juga akan merindukan Indonesia seperti mereka?

Apakah nanti saya juga akan memasang bendera Indonesia di kamar saya seperti yang mereka lakukan? Mencari informasi tentang berita terkini di Indonesia? Bahkan update lagu-lagu baru dari penyanyi negeri ini? Sampai segitunya? Mungkin.

Apapun itu, yang pasti, sebagai anak bangsa ini sudah sewajarnya kita membanggakan negara sendiri. Kita lihat saja anak bangsa yang sedang bermain di negeri orang, mereka mengucap rindu pada negara yang mereka tinggalkan. Itu berarti Indonesia memang punya makna di hati mereka.

Mungkin jika kita berpisah dengan negeri ini, baru akan tahu rasanya merindukan tanah kelahiran. Ya, mungkin begitulah cinta yang tertanam dalam kerinduan. Datangnya ketika sudah tidak bersama.

Hanya saja, kita yang masih di sini tidak pernah merasakan kerinduan itu. Jadi kita masih sering saja sibuk mencela negeri sendiri.

Di Indonesia mungkin macet itu biasa. Di negara lain, macet mungkin tidak ada. Tapi, ada saja lalu lintas yang semrawut di negara seberang sana. Bukan karena kendaraan padat, tapi karena tidak tertib saat berkendara. Kalau kata teman saya, “Mau belok kiri kok ambilnya dari sebelah kanan.”

Jadi, intinya setiap negara punya masalahnya sendiri-sendiri. Tidak perlu diambil pusing. Kita lahir di Indonesia, maka sudah sepantasnya kita memberi negara ini cinta.

Mencintai negara lain? Boleh. Asal tidak mengurangi rasa cinta pada negeri sendiri. Begitu menurutku.

Sumber gambar: geotimes.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Jadi Tukang Parkir, Nggak Semudah yang Kalian Pikir uget uget

Jadi Tukang Parkir, Nggak Semudah yang Kalian Pikir

Suka Duka Jadi Anak Kembar uget uget

Suka Duka Jadi Anak Kembar