Bingung Cari Oleh-Oleh Khas Jogja, Ke Sini Saja
Sumber gambar: www.pikniek.com
in

Bingung Cari Oleh-Oleh Khas Jogja, Ke Sini Saja

UGET UGET – Jogja merupakan destinasi wisata terbesar kedua di Indonesia setelah Bali. Dan karenanya setiap hal yang berkaitan dengan wisata akan kamu dapatkan di Jogja. Mulai dari bangunan hotel dengan harga paling rendah sampai paling mahal, perusahaan perjalanan wisata dengan harga yang beragam, hingga produk-produk yang bisa dijadikan oleh-oleh khas Jogja.

Jika kamu tidak jeli dalam memilah hotel, paket wisata, bahkan oleh-oleh, ditakutkan kamu hanya mendapatkan sesuatu yang mahal namun kualitas rendah. Maka, sebelum berangkat ke Jogja, sebaiknya baca tulisan ini terlebih dahulu, dari seorang penulis yang telah lama tinggal di Kota Pelajar ini.

Untuk oleh-oleh khas Jogja, saya sarankan untuk bertransaksi di Pasar Beringharjo. Letaknya persis di antara Jalan Malioboro dan Museum Vredeburg. Posisi ini memungkinkan kita untuk hanya satu kali jalan antara Malioboro, Vredeburg dan Titik Nol Jogja.

Harga barang-barang di Pasar Beringharjo bisa dikatakan harga yang paling murah di antara toko oleh-oleh Khas Jogja. Suatu kali saya pernah membandingkan harga antara lapak-lapak di Jalan Malioboro dan Beringharjo. Bedanya cukup tinggi. Baju kaos, di Beringharjo umumnya hanya Rp. 30.000, sementara di Malioboro harganya Rp.35.000. Hal ini dikarenakan, kata penjual lapak di Malioboro, rata-rata penjual di Malioboro adalah dropshipper dari toko di Beringharjo.

Selain itu, oleh-oleh yang ditawarkan lebih beragam. Pasar Beringharjo terdiri dari tiga lantai, yang terdiri dari pakaian, makanan, sembako, dan barang-barang murah lainnya. Pilihan model pakaian pun lebih beragam. Hal ini disebabkan keberadaan Beringharjo yang memang telah menjadi pasar utama di Jogja selama berabad-abad lamanya.

Pasar ini diresmikan pada tahun 1925 oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan telah memiliki sebuah bangunan permanen untuk proses jual beli. Namun sebelumnya, ketika masih berupa hutan beringin, tempat ini telah menjadi pasar tradisional tanpa bangunan permanen. Nama Beringharjo sendiri adalah pemberian Sultan yang mengandung arti pohon yang diharapkan mampu memberikan kesejahteraan.

Kesejarahan itu tercermin pula dari arsitektur bangunannya yang memadukan antara arsitektur Jawa dan Belanda. Para penjual pun masih melakukan transaksi secara tradisional, ramah dan mementingkan kekeluargaan dibanding keuntungan berdagang.

Sebagai pasar tradisional, Beringharjo sudah mulai ramai di subuh hari dan tutup pada jam lima sore. Namun, aktivitas pasar tidak berhenti jam itu juga. Setelah toko-toko ditutup, berganti lapak-lapak makanan yang menjajakan bermacam panganan khas Jogja, mulai dari gudeg, kikil, hingga varian oseng-oseng yang beragam.

Sumber gambar: www.pikniek.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Cara Mendidik Anak yang Suka Mencuri

Cara Mendidik Anak yang Suka Mencuri

Ayam Jago di Lintasan Laut China Selatan

Ayam Jago di Lintasan Laut China Selatan