Burger Shop Keliling Ku Kayuh Becak ugetuget
Sumber gambar: vectips.com
in

Burger Shop Keliling: Ku Kayuh Becak Sejauh 29 Kilometer

UGETUGET – Sebuah pemandangan yang tak jarang ditemui. Burger shop keliling dan seorang pria berambut putih, berkacamata model lawas, duduk menyilangkan kaki, membaca koran di pelataran Ruko Candi, Jalan Kaliurang KM 12 Nomor 5. Pagi benar ia sudah terbangun dari tidurnya untuk mengambil roti dari pemasoknya, seorang Dokter Gigi.

Setiap hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, pria yang akrab disapa Wahadi ini berjualan burger dengan mengayuh gerobak becaknya, bertuliskan Burger Dinar. Pria kelahiran Bantul, 21 Agustus 1942 ini sudah berjualan burger sejak tahun 2004. Tumpukan hutang memaksanya untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan dari sekadar berjualan es dan makanan ringan di sekolah, atau dari sekadar berjualan aneka souvenir.

Burger Shop Keliling Ku Kayuh Becak Sejauh 29 Kilometer
Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Usianya yang lebih dari setengah abad kala itu tak pelak menyulitkan langkahnya dalam mencari pekerjaan baru. Sampai pada suatu ketika ia menemukan iklan lowongan kerja yang mencari jasa penjaja burger keliling.

Terjal dan lika-liku jalanan sejauh 29 kilometer tak mematikan semangatnya dalam mengambil roti untuk dijual keesokan harinya. Meski ia harus mengayuh gerobak becak dari rumahnya di Jalan Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul sampai Ruko Candi, nampaknya mimik letih tak menyeruak dari wajahnya. “Capai tapi kok tuman (ketagihan) haha,” ucapnya sembari tertawa.

Ia mengaku lebih memilih menggunakan sepeda. “Daripada untuk biaya bensin, mending pakai sepeda, nggak keluar biaya. Kalau ada kerusakan nanti potong setoran saja, paling empat bulan sekali beli ban,” jelasnya.

Burger Shop Keliling Ku Kayuh Becak Sejauh 29 Kilometer uget uget
Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Burger yang dulunya bernama Ten Burger ini mengalami kebangkrutan di awal kemunculannya. Akhirnya pemasok menarik semua karyawannya dan hanya Wahadi yang bersikukuh pada pekerjaannya. Berkat keteguhannya, pemasok bersedia menyediakan bahan-bahan burger hanya untuk dirinya dengan syarat ia mau mengambil sendiri roti-rotinya. Semenjak itulah kayuhannya semakin jauh, Wahadi harus mengambil roti burgernya di Jalan Kaliurang KM 12.

Jauhnya jarak rumah ke tempat pemasok roti membuatnya harus berangkat sehari sebelum bekerja. “Saya tuh kalau ke sini santai, paling enam jam sampai haha. Berangkat dari sana jam tiga sore, sampai sini malam jam sembilanan,” ucapnya ringan seolah-olah jarak bukanlah halangan dalam mencari nafkah untuk istri dan ketiga anaknya. Ia mengaku tak setiap hari pulang. Ia hanya pulang Rabu dan Sabtu malam. Sedangkan sisa waktunya ia habiskan untuk berjualan souvenir di area wisata Makam Raja-Raja dekat rumahnya.

Sebelum berangkat bekerja, gerobaknya sudah penuh terisi bahan-bahan burger, mulai dari roti, daging pipih, bawang bombai, timun, tomat, saus, mayonaise, pembungkus, dan tak lupa gas. Hasil jerih payahnya ia rasa cukup untuk menyelamatkan perekonomiannya beserta keluarga. “Nanti uang Rp360.000 disetor ke pemasok buat ambil bahan-bahan burger. Sisanya Rp160.000 masuk kantong pribadi. Tiga kali seminggu Rp480.000, bersihnya Rp400.000. Ya cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari.” Sungguh keuntungan yang tak seberapa bila dibandingkan dengan kerja kerasnya. Namun, ia tetap mensyukurinya bahkan menganggapnya lebih dari cukup.

Burger Shop Keliling Ku Kayuh Becak Sejauh 29 Kilometer uget-uget
Wahadi kebanjiran pesanan begitu bahan-bahan burger memenuhi gerobaknya. Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Jika waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, ia siap untuk berjualan. Ia biasa berjualan di sepanjang Jalan Kaliurang KM 12 sampai seputaran UGM dengan waktu tempuh 3,5 jam. Di UGM, ia mengetem terutama di depan Bank BNI atau dekat bundaran. Letihnya terbayar setelah 80 buah burger laku terjual. Bila jumlah roti di gerobaknya tinggal sedikit, ia berani untuk bergegas pulang. Namun, jika roti masih tersisa 20an, ia harus mengurungkan niatnya itu.

Kerja payah-payah menjadi hal biasa bagi pria lulusan SD ini. Ketelatenannya dalam melakoni pekerjaannya, nyatanya membuahkan hasil. “Saya kerja (jual) burger banyak kemajuannya. Dulu punya hutang sekarang tidak ada lagi. Banyak hutang untuk biaya anak sekolah. Anak baru SMA hutangnya sudah banyak,” keluhnya.

Hutang sebesar Rp5 juta mampu ia lunasi di tahun 2014. “Hutang sudah sejak tahun 2000an, lunas tiga tahun yang lalu. Dulu bingung nggak bisa bayar. Setelah saya jualan burger semua beres. Anak-anak sekarang sudah gemuk. Dulu untuk makan saja, duh,” ucapnya lirih.

Pernah saat laci gerobaknya terbuka, terlihat ada tumpukan selimut, tikar, baju ganti, pompa, sampai alat reparasi sepeda. Setiap Senin, Selasa, dan Jumat malam, Wahidi rela tidur di teras Ruko Candi untuk bekerja keesokan harinya. Dinginnya malam seakan menjadi teman karibnya. Maka tak heran jika Wahadi membawa barang-barang itu dalam lacinya.

Meskipun pemasok sudah menyediakan tempat tidur, namun Wahadi kukuh tidur di luar sembari menjaga gerobak becaknya. “Ini gerobak tidak bisa masuk, kan ada mobil. Ya ndak apa, terpaksa tidur sini (menunjuk teras). Ya darurat. Nanti kursi ini digandeng juga bisa. Gerobaknya harus ditunggu, lha nanti tidur dalam, (gerobaknya) dibawa lari orang.” Gerobak becak kesayangannya itu benar-benar menjadi sarana berjualan dan prasarana transportasi baginya. Tak hanya itu, Wahadi juga kerap membawa bekal beras, teh, dan gula untuk menghemat ongkos makan.

Burger Shop Keliling- Ku Kayuh Becak Sejauh 29 Kilometer
Wahadi tidur melepas lelah beralaskan kursi. Suara lalu lalang kendaraan mengantar tidurnya menuju lelap. Foto: Elisabet Selsyi – ugetuget.com

Usianya yang menginjak 75 tahun tak menjadi alasan baginya untuk bermalas-malasan. “Kembali lagi, pesan orang tua dulu. Kalau mau maju harus melangkah, kalau banyak melangkah cepat sampai. Lha ini tujuan saya masih jauh, di sini ini masih pertengahan. Cita-cita tuh harus jauh,” begitulah nasihatnya.

Nasihat itu ia jadikan sebagai prinsipnya dalam bekerja. Ia meyakini kerja berkeliling adalah pilihan terbaiknya. “Kalau mau jualan di rumah laku, tetapi sedikit. Kalau banyak melangkah, banyak lakunya.”

Jauhnya jarak, dinginnya malam, seakan lazim mengiringi kayuhan dan langkah kakinya pulang pergi. Meski sukar, tak masalah baginya membawa gerobak becaknya ke manapun. “Bekerja itu untuk mendidik anak, biar mereka mengikuti tanggung jawab seperti Bapak’e, tidak jadi pengangguran.” Bentuk pengorbanan dan tanggung jawab ia contohkan pada anak-anaknya dengan bekerja tanpa mengenal usia.

Sumber gambar: vectips.com

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

apa itu hybrid simcard

Apa Itu Hybrid Simcard ? Apa Semua Ponsel Menggunakannya?

Acara Modern Moms Trans 7: Media Edukasi untuk Merawat Si Kecil

Acara Modern Moms Trans 7: Media Edukasi untuk Merawat Si Kecil