Buntut Panjang Kegagalan Italia di Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa
Sumber gambar: www.dailymail.co.uk
in

Buntut Panjang Kegagalan Italia di Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa

UGET UGET – Rangkaian cerita tentang kegagalan Italia di kualifikasi Piala Dunia belum juga berakhir. Cerita demi cerita datang bagaikan buntut panjang yang terurai di belakang kegagalan itu. Ada saja hal-hal yang berkaitan atau bahkan dikaitkan dalam kejadian ini. Yang pasti, semuanya masih tetap sama menyoal kegagalan Italia.

Satu hal yang sudah banyak beredar adalah berita pensiun sang kiper Italia, Gigi Buffon. Akibat kegagalan Italia menuju Piala Dunia itu, Buffon mempercepat rencananya untuk pensiun. Sebelumnya Buffon berencana untuk pensiun tahun depan setelah Piala Dunia selesai, kini dia sudah memutuskan untuk mewariskan sarung tangannya pada Donnarumma dan Perin.

Bahkan, De Rossi juga dikabarkan mengikuti jejak Buffon yang menanggalkan jersey Italia usai kegagalan tersebut. Itu adalah keputusan yang diambil oleh seorang pemain yang lebih kurang sudah satu dekade membersamai Gli Azzurri. Keputusan senada juga diambil oleh Giorgio Chiellini.

Entah merasa bersalah atau bagaimana, para senior seperti sudah mempersilakan kursinya diduduki para juniornya dan meminta mereka untuk memulai era baru di Tim Biru ini.

Lebih dari sekadar kabar pensiunnya pemain-pemain Gli Azzuri, kegagalan tempo hari itu membuat pelatih Italia Gian Piero Ventura mendapat sorotan tajam. Banyak pihak yang mendesaknya mundur dari jabatannya tersebut.

Mereka semua meragukan kemampuan Ventura dalam menangani tim besar sekelas Italia. De Rossi pun sempat terlihat heran dengan keputusan sang pelatih yang kala itu memintanya untuk melakukan pemanasan, bukan Insigne yang statusnya adalah penyerang.

De Rossi mengatakan kepada staff teknis bahwa saat itu Italia harus menang dan dia berpikir bahwa alangkah lebih baiknya seorang penyerang saja yang dimainkan. Alasan yang menurut saya logis tanpa sedikitpun berniat menyinggung pihak manapun.

Jika hanya terfokus pada sesuatu yang ingin dikambing hitamkan, sebenarnya ada banyak sekali. Mengapa tidak ada yang mengecam pemain Italia yang membelokkan arah bola sehingga Buffon mati langkah dan akhirnya terjadi gol di leg pertama dulu? Kalau alasannya karena pemain itu tidak sengaja, sebenarnya kasusnya sama dengan kegagalan di leg kedua ini. Tidak ada (baik pemain atau pelatih Italia) yang sengaja ingin membuat Italia gagal.

Bahkan, dari hal-hal kecil seperti ruang ganti pun bisa saja dipermasalahkan dan dianggap jadi penyebab kekalahan. Mengapa Italia tidak memakai ruang ganti AC Milan saja dan justru memilih ruang ganti Inter Milan?

Kita tahu ini adalah kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Kalau sudah bawa-bawa Eropa, biasanya wakil Italia yang paling hoki di kancah itu adalah AC Milan. Terbukti dengan gelar Milan yang lebih banyak dari pada Inter di Eropa. Barangkali saja aura positif itu bisa ikut mengalir pada Timnas Italia. Sayangnya, kemarin justru ruang ganti Inter Milan yang dipilih. Tapi lupakan saja. Itu hanya kelakaran fiktif jika yang kita cari adalah apa atau siapa yang harus disalahkan.

Sama halnya jika saya ditanya siapa yang harus disalahkan dengan hasil kemarin. Tentu saya tidak akan menyalahkan Ventura atas taktiknya atau mengecap buruk permainan Italia. Karena saya merasa usaha Italia di leg kedua kemarin sudah pol-polan.

Bayangkan saja, livescore.com pun mencatat tim difensif itu bisa unggul ball possession hingga 73%. Shot on target 7 berbanding 2, sedangkan shot off target 15 berbanding 1. Itu kalau kita berbicara statistik.

Terlepas dari kritik orang-orang tentang kesalahan Ventura dalam menempatkan pemain bla bla bla, saya hanya kecewa pada satu hal. Mengapa Ventura tidak memanggil Mattia De Sciglio lagi ke Timnas Italia?

Saya tahu, kalian banyak yang tidak setuju. Mungkin banyak juga yang bertanya, siapa sih Mattia itu? Untungnya apa dia dipanggil lagi ke Timnas Italia?

Begini, saya jelaskan. Mattia adalah mantan pemain AC Milan yang sudah menjadi idola saya sejak masih di Tim Primavera Milan enam tahun yang lalu. Kalau Mattia main, dapat dipastikan saya berdoa banyak sepanjang pertandingan.

Barangkali saja dengan doa itu bisa membuat Italia menang kan? Bukankah kita percaya bahwa doa adalah kekuatan terbesar? Hohoho. Lupakan kekonyolan ini. Saya hanya mencoba untuk menghibur diri sendiri atas kegagalan Italia.

Intinya satu, sudahlah berhenti mendebat siapa yang salah. Kalaupun dinilai memang perlu, pelatih Italia nanti juga pasti akan diganti oleh FIGC. Bagi tifosi Italia, kita belajar ikhlas saja. Cari jagoan lain di World Cup. Meskipun mungkin yang akan paling melekat dalam memori kita tentang Piala Dunia Rusia 2018 adalah kegagalan Italia untuk berangkat ke sana.

Sumber gambar: www.dailymail.co.uk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Dua Lipa New Rules Boy Version with Jake Wilson uget uget

Dua Lipa New Rules Boy Version with Jake Wilson

Kunci Obat Galau Paling Ampuh Cuma Ada Satu, Ini Loh... uget uget

Kunci Obat Galau Paling Ampuh Cuma Ada Satu, Ini Loh Obatnya