ugetuget.com - buku yellow pages yang legendaris

Buku Yellow Pages: Pelajaran Bagi Pebisnis

Sejak 2009, sudah tidak ada lagi buku Yellow Pages yang legendaris itu — kitab kuning setebal bantal berisi ratusan ribu nomor telepon dan alamat perusahaan. Padahal, kitab itu selama beberapa dasawarsa menjadi mesin pengeruk keuntungan bagi Yellow Pages.

Yellow Pages mungkin awalnya tidak akan mengira bahwa mereka akan menghentikan produk cetakan buku itu. Tapi, masyarakat sudah tidak lagi membutuhkan buku Yellow Pages. Sekarang, orang telah beralih ke internet untuk mencari informasi. Ini adalah tahap lebih lanjut dalam evolusi manusia dalam mencari informasi apa pun.

Saya masih ingat sekali bagaimana dulu saya mencari nomor telepon perusahaan dengan menggunakan buku Yellow Pages yang setebal bantal itu. Untuk mencari nomor telepon dan alamat sebuah perusahaan, saya harus membolak-balik halaman dan mengurutkan nama perusahaan berdasarkan abjad.

Buku Yellow Pages juga menampilkan nomor telepon perseorangan. Jadi, bisa dibayangkan seberapa tebal buku itu: memuat ratusan ribu nomor telepon dan alamat rumah di hampir semua kota. Tapi itu adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan nomor telepon.

Memang terkesan aneh, tetapi perubahan itu memang pelan tetapi pasti. Saya masih ingat ketika terakhir kali membuka Yellow Pages sekitar tahun 2007. Memang saat itu internet sudah populer di Indonesia dengan munculnya Kaskus, tetapi tidak sedahsyat hari ini. Dulu ponsel dengan menggunakan internet masih sangat sedikit.

Saya sendiri memiliki ponsel Android baru sekitar tahun 2009. Saat itu saya menggunakan ponsel dari Samsung dengan sistem operasi Android versi 2.1. Itulah era di mana ponsel mulai memiliki koneksi internet 24 jam. Dengan ponsel yang terkoneksi ke internet selama 24 jam penuh, tentu saja akses ke informasi menjadi lebih cepat. Nomor telepon dan alamat bisa dicari menggunakan Google. Saat itulah rupanya yang menjadi titik yang menegangkan bagi Yellow Pages.

Saya yakin sekali bahwa sebelum era ini, keuntungan Yellow Pages dari buku kuning yang tebal dan menyulitkan tersebut sangat besar. Biaya cetaknya juga mahal, terlebih lagi Yellow Pages harus mendistribusikan buku tersebut ke kota-kota besar di dunia.

Dulu, Yellow Pages bisa mendapatkan keuntungan dari sponsor. Caranya cukup mudah: sponsor meletakkan banner maupun informasi bisnisnya di dalam buku tebal itu. Buku ini juga di-update secara berkala, hampir mirip seperti majalah tetapi isinya hanya nomor telepon dan informasi-informasi lainnya.

Kalau di era milenial seperti ini, kita akan merasa aneh dengan perusahaan sebesar Yellow Pages yang harus mencetak buku yang berisi nomor telepon dan alamat. Tentu saja hal itu sesuatu yang bodoh karena sekarang ada internet yang memudahkan kita dalam mencari informasi. Semua informasi ada dalam genggaman kita.

Saya berpikir kenapa dulu orang-orang mau cari nomor telepon dan alamat melalui sebuah buku yang begitu tebal dan menyulitkan. Saya sendiri butuh beberapa menit untuk meneliti satu persatu nomor telepon, dan itu membutuhkan waktu. Tapi, saya juga sadar bahwa zaman itu memang belum semudah sekarang. Hidup sedikit terasa sulit.

Tergusur Google

Mau tidak mau zaman menjumpai revolusi dan muncullah raksasa mesin pencari bernama Google yang mampu menyerap seluruh halaman situs web yang ada di internet. Ini adalah bencana sekaligus penolong. Ada yang tergusur dengan adanya Google dan ada juga yang tertolong dengan adanya mesin pencari gigantik ini.

Salah satunya adalah Yellow Pages yang pada akhirnya harus menghentikan cetak buku kuning khasnya. Tentu saja keuntungan perusahaan anjlok. Google memaksa perusahaan sebesar Yellow Pages untuk berevolusi jika tidak ingin tumbang dan bangkrut. Kabarnya, Yellow Pages akan mengalihkan informasi-informasi yang berkaitan dengan nomor telepon dan alamat ke media digital.

Saat ini mereka sudah membuat situs dengan alamat Yell.com. Situs ini menawarkan secara gratis bagi perorangan dan bisnis untuk menambahkan data-data mereka ke dalam database Yellow Pages. Ini adalah salah satu cara bagi mereka agar tetap bertahan.

Ingat, Yellow Pages adalah perusahaan yang sudah berumur puluhan tahun. Tidak lucu juga pada akhirnya mereka harus bangkrut hanya karena menghentikan cetak buku kuning yang tebal dan menyulitkan keuangannya itu.

Pelajaran yang bisa diambil dari buku Yellow Pages

Tentu saja ada pelajaran yang bisa diambil dari evolusi semacam ini. Untuk para pebisnis, tidak ada perusahaan yang benar-benar aman. Semuanya berpotensi untuk bangkrut, tergantung cara perusahaan berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman.

Bukankah sudah banyak sekali perusahaan besar yang dulunya raja dalam industri tertentu sekarang hanya tinggal nama? Mulai dari Kodak, Siemens, Nokia sampai dengan Yahoo. Dulunya mereka adalah pionir pada bidangnya.

Tetapi karena tidak berevolusi, akhirnya perusahaan menjadi mundur bahkan bangkrut. Padahal, raksasa Google juga terus berinovasi dengan menggaet orang-orang yang kreatif dan inovatif. Ini adalah salah satu cara perusahaan agar tetap berdiri kokoh.

Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari berhenti cetaknya Yellow Pages saat memasuki era digital.

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu