Sport

Blunder Penjaga Gawang: Masih Tetap Manusia Biasa

UGETUGETBlunder penjaga gawang adalah bukti bahwa manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Tepat seperti kata Pak Ustaz dulu.

Apa lagi kaa Pak Ustaz? Bahwa Semua manusia dilahirkan sama. Begitulah juga kata guru SD saya dulu untuk selalu memotivasi murid-muridnya. Awalnya, saya tidak percaya kalau manusia dilahirkan sama.

Setiap kali saya melihat bayi yang baru lahir, semuanya berbeda. Ada yang putih, ada yang hitam. Ada yang yang rambutnya banyak, ada pula yang cuma sebiji, bahkan botak seperti Upin dan Ipin.

Ada yang gendut sampai susah dikeluarin emaknya dari perut. Ada juga yang kecil sampai emaknya tidak tahu kalau perutnya sudah tidak berisi anak lagi. Dari situlah saya berkesimpulan bahwa semua manusia dilahirkan tidak sama. Kalau ada yang sama atau sedikit kemiripan tokoh, tempat dan cerita, itu hanya kebetulan.

Bahkan, orang yang katanya kembar saja kadang gak ada mirip-miripnya. Dari tinggi dan berat badan tidak ada mirip-miripnya. Apalagi ngomongin bakat dan kemampuan, dijamin gak ada yang sama. Pun ada juga yang mirip.

Akan tetapi setelah saya kuliah dan kata yang sama diucapkan lagi oleh Pak Dosen, pemahaman saya sedikit berubah. Sedikit saja berubahnya. Bukan karena dosen itu mampu menjelaskan dengan detail makna dari kata tersebut. Itu gak ada hubungannya.

Peran dosen dalam mengubah pemahaman saya adalah membuat saya mengantuk. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berusaha untuk tidak mengantuk. Bukan karena penjelasan Pak Dosen sangat menarik, tetapi karena saya tidak mau tidur di hadapannya. Sebab, kalau sampai saya tidur, saya bisa dapat nilai jelek.

Seribu satu cara saya gunakan untuk menghilangkan kantuk. Dan akhirnya mata saya menemukan tulisan YouTube di gawai. Saya tekan gambar itu dan “cling”, muncul sebuah video sepak bola yang menjelaskan semua makna kata yang disampaikan Pak Dosen.

Penjaga-penjaga gawang tim sepakbola itu dengan susah payah menjaga gawangnya untuk tidak kebobolan. Aksi-aksi heroik dan berani telah mereka lakukan agar gawang yang dijaganya tidak kebobolan.

Mereka menggunakan segala cara untuk menjaga gawang. Dari menghalau bola dengan cara yang biasa saja, seperti menggunakan tangan, sampai menghalau bola dengan kepala, pundak, lutut, dan kaki. Semua anggota badan digunakan untuk menghalau bola.

Ada yang berhasil, ada pula yang gagal, bahkan melakukan blunder penjaga gawang yang bikin kesal. Mereka yang gagal langsung geleng-geleng kepala, sedang yang berhasil langsung melakukan perayaan. Kadang-kadang perayaan yang dilakukan begitu berlebihan sampai membuat saya yang geleng-geleng kepala. Penjaga gawang itu langsung jadi sombong.

Ada yang begitu percaya diri dan membawa bola sampai ke tengah lapangan. Padahal, dia sudah diberi tempat bermain sendiri seluas enam belas meter persegi. Rupanya itu belum cukup, sehingga mereka ikut-ikutan main ke tengah lapangan. Dan peristiwa yang tidak diinginkan pun terjadi: gawang mereka kebobolan.

Dan begitulah saya memahami bahwa semua manusia dilahirkan sama: pemahaman yang secara tidak langsung lahir berkat penjelasan Pak Dosen yang membosankan.

Silakan cermati video blunder penjaga gawang di bawah ini.

Sumber gambar: Fandom.id

https://www.youtube.com/watch?v=-D0MRB7_ERE

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi