uget uget - Bisnis Startup Aplikasi Kasir Instan 2
Sumber gambar: www.freepik.com
in

Bisnis Startup Aplikasi Kasir Instan dengan Nutapos

UGETUGETBisnis startup aplikasi mungkin masih jarang terdengar di telinga awam. Bisnis startup biasanya identik dengan penggunaan teknologi berbasis aplikasi website. Meskipun usaha ini tergolong baru, di Indonesia sendiri produk bisnis aplikasi startup atau rintisan telah banyak mengisi keseharian kita. Di bidang marketplace, kita mengenal Tokopedia dan Bukalapak, atau di bidang transportasi ada Gojek, Grab, dan Uber yang  barangkali menjadi jasa andalan kita.

Bisnis startup berbagai macamnya, mulai dari pengembang games, edutainment, music, animation, hingga software service. Rahmat Ihsan menjadi salah satu pelakon bisnis startup jenis software as a service. Pria lulusan jurusan Sistem Informatika ITS ini merupakan pemrogram aplikasi kasir Nutapos.com, sebuah aplikasi kasir berbasis cloud yang dapat berjalan pada tablet android.

Dengan berbasis cloud, Nutapos memungkinkan pemilik bisnis, khususnya kuliner, untuk dapat melihat laporan bisnisnya secara online melalui website Nutapos.com. Aplikasi ini sendiri berdiri tahun 2015, saat Rahmat bersama timnya memenangi kompetisi Indigo Incubator yang diadakan PT Telekomunikasi Indonesia.

uget uget - Bisnis Startup Aplikasi Kasir Instan
Rahmat Ihsan saat ditemui di Inkubator Jogja Digital Valley.

Timnya, yang terdiri dari Erich Hartawan (CEO), M. Husnan (CTO), dan ia sendiri sebagai analis sistem, kala itu masuk dalam 16 tim yang lolos dari 600 tim yang ada dengan kategori FinTech (Financial & Technology). “Itu teknologi yang berhubungan dengan keuangan/finansial, inovasi sistem keuangan,” ujarnya.  Dari 16 tim tersebut, 4 tim di antaranya ditempatkan di Yogyakarta.

Sejauh ini, aplikasi Nutapos sudah digunakan oleh 200-an pelaku usaha kuliner di Yogyakarta. Bisnis kuliner tersebut seperti warung makan, restoran, cafe, booth, hingga food truck. Sedangkan di luar Yogyakarta, produk bisnis startup aplikasi ini sudah digunakan oleh lebih dari 50 pelaku usaha kuliner, di antaranya ada di  Banjarmasin, Surabaya, Sukabumi, Jakarta, dan Tegal.

Yogyakarta dipandang Rahmat sebagai lahan basah bagi perkembangan startup-nya. “Antar pemilik bisnis kuliner ada komunitas sehingga aplikasi kami tersebar dari mulut ke mulut, juga bisnis kuliner di sini cenderung stabil dan bisa bertahan,” ungkapnya saat ditemui di ruang inkubatornya di Jogja Digital Valley (JDV), Jalan Kartini No. 7, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, DIY (16/10).

Penciptaan startup Nutapos ini berangkat dari keinginannya bersama tim untuk menambah fungsi dan meningkatkan pengalaman sebuah aplikasi kasir. “Pada umumnya cash register konvensional pakai kode, kasir kesulitan, terus nggak bisa online sehingga data rentan hilang,” ujar pria kelahiran Surabaya, 15 Agustus 1985 ini.

Berkat idenya bersama tim, aplikasi Nutapos semakin memudahkan penggunanya dalam bertransaksi. Aplikasi ini memiliki menu penjualan, pembelian, keuangan, hingga stok produk yang tersedia sehingga makin memudahkan kerja seorang kasir. Aplikasi ini pun dapat berjalan, baik dalam jaringan (daring) maupun tidak. “Tapi kalau ada internet data keuangan bisa langsung tersimpan di website Nutapos,” tambahnya.

Di zaman yang serba instan, Nutapos menawarkan berbagai kemudahan. Antara lain, pengguna dapat mendaftarkan produknya secara langsung di tablet sehingga membantu dalam publikasi. “Kita juga menyediakan mini printer dengan koneksi bluetooth untuk mencetak struk belanja.”

Sebagai pemrogram, setiap bulannya ia bertanggung jawab memperbarui program Nutapos. Baginya, sebagai pelaku usaha startup penting untuk memiliki niat, tekad, usaha, serta tentunya tim yang solid. “Skill (keahlian) itu nomor sekian,” ujarnya.

Dari 4 tim yang ditempatkan di Yogyakarta, Nutapos menjadi salah dua startup yang masih bertahan di inkubator JDV. Kata Rahmat, masa inkubator sebenarnya hanya 6 bulan. “Ini sudah dua tahun tapi masih diminta untuk tetap di sini,” kata Rahmat.

Dalam menghadapi persaingan bisnis startup baik dengan sesama maupun dengan lain jenis, Rahmat terus berkaca dari pengalaman kegagalannya. Pada tahun 2012, bersama dengan temannya, ia pernah berjualan software akuntasi Mbsoft. Namun pada tahun 2014, dalam evaluasi bisnis, software buatannya dinyatakan tidak berkembang.

Sekarang ia lebih memilih membuat startup yang lebih simpel dan mudah diterima pebisnis. “Dulu karena software pabrik jadi terlalu rumit, ada pembelian, produksi, penjualan, keuangan, produk, SDM, penggajian,” ungkapnya. Pun, ia menilai saat ini startup-nya sudah mampu bertahan, sehingga sekarang ia lebih fokus pada upaya pengembangan, salah satunya dengan perekrutan SDM.

“Kami butuh tenaga kerja untuk mengembangkan bisnis startup aplikasi di bidang marketing dan technical support, sekarang juga lagi mengupayakan kerja sama dengan para freelancer,” ujar pria 32 tahun ini. Saat ini, baginya, keberlanjutan bisnis startup aplikasi fintech perlu memperhatikan keseimbangan antara desain dan program, serta tak lupa mengencangkan marketing.

Sumber gambar: Freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Mata Air Sungai sebagai Sumber Kehidupan dan Sumber Ekosistem

Mata Air Sungai sebagai Sumber Kehidupan dan Sumber Ekosistem

uget uget - Radio Yang Sebaiknya Anda Tahu

Radio Yang Sebaiknya Anda Tahu