Sport

Berita Bola: Dua Gol Egy M(essi) yang Membelah Kewarasan

UGETUGET – Tak ada yang lebih hebat dari komentator berita bola Indonesia. Bagaimana tidak, lapangan yang penuh rumput berwarna hijau bisa jadi lautan di mulut komentator bola Indonesia.

Sembarangan memang, tapi begitulah kenyataannya. Setelah lapangan jadi lautan, kemudian lautan itu dibelah dengan kaki-kaki pemain. Jangan dibayangkan laut yang terbelah, atau kaki pemain bola yang mendadak jadi tongkat nabi Musa. Kalau bayangan pembaca seperti itu, berarti sudah ada yang bermasalah dengan kewarasan anda.

Segera datang ke rumah sakit, sebelum mendengar komentator melanjutkan ke-ngawuran-nya. Dan pemirsa televisi pun mengalami halusinasi dini. Kalau sudah begitu, bisa-bisa pemirsa di rumah membayangkan perang antara Indonesia menggempur Myanmar.

Itu tidak boleh dilakukan, sekalipun dalam halusinasi. Sebab, pendahulu bangsa Indonesia mengajarkan untuk menjaga ketertiban dunia, perdamaian abadi.

Nasionalisme Tak Kenal Tempat

Memang cinta itu buta. Dan baru kali ini cinta buta itu tidak ditujukan antara dua insan. Melainkan cinta yang mulia, cinta kepada sebuah bangsa.

Akan tetapi, mencintai bangsa tidak harus menjadi gila, ‘kan? Termasuk membuat lapangan hijau jadi lautan. Tak perlu jadi Sangkuriang yang menendang perahu untuk mencintai negeri ini.

Sepanjang pertandingan, tidak habis-habisnya sang komentator melontarkan kata-kata mutiara. Dari plesetan peristiwa heroik, sampai kutipan kata-kata yang membakar semangat dari bung Karno.

Misalnya sebuah “agresi”. Sampai ada kata, “Satukan garuda pancasila” pada saat Indonesia mencetak gol pertamanya. Kemudian “Indonesia bangunlah badannya bangunlah jiwanya” pada gol kedua.

Tidak akan ditemui pada pertandingan mana pun, seorang komentator menyebut lagu kebangsaan atau peristiwa sejarah untuk mengungkapkan sebuah gol.

Misalnya seorang komentator mengatakan The Star Spangled Banner saat Clint Dampsey mencetak gol untuk Amerika Serikat. Atau Aeguka saat Kim Jong Un berhasil menjebol gawang David De Gea.

Se-ngawur-ngawur-nya komentator bola tarkam (antarkampung), tidak akan menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan jika pertandingan tersebut dilaksanakan pada tanggal tujuh belas Agustus. Tidak ada lagu nasional atau pidato Bung Karno.

Analis yang Antimainstream

Akan tetapi, hal semacam itu sepertinya memang perlu: seorang komentator bicara ngelantur sampai lupa caranya menjadi komentator bola. Keberaniannya untuk antimainstream dari komentator umumnya patut diacungi jempol.

Sebab, dia telah berani tampil apa adanya. Oleh karena menyadari bahwa dirinya tidak mampu melakukan analisis mendalam seperti komentator liga-liga top Eropa.

Telah dia coba membimbing penonton memahami permainan bola, lewat sentilan-sentilan nyeleneh dari mulutnya. Dia buat pemirsa di depan televisi mengumpat tanpa henti, sampai tertawa sampai sakit.

Sebagai pemirsa di rumah, kita tinggal menikmati yang disajikan televisi. Kalau merasa terganggu dengan banyolan komentator, kecilkan volume sampai hening. Kalau merasa kurang seru, besarkan saja suaranya biar ramai. Toh pemain yang ada di lapangan tidak akan terganggu dengan ucapan komentator yang itu.

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi