Hubungan Perubahan Bentuk Karya Sastra, Komik, Hingga Film
Sumber gambar: style.tribunnews.com
in

Hubungan Perubahan Bentuk Karya Sastra, Komik, Hingga Film

UGET UGET – Karya merupakan suatu hasil manusia untuk menunjukan sesuatu tentang ide atau gagasan pembuat. Walaupun begitu, definisi karya menurut beberapa orang berbeda-beda tergantung background disiplin ilmu yang mendefinisikan tentang karya. Karya sastra memiliki berbagai bentuk, ada yang berbentuk tulisan, ada yang berbentuk penampilan, ada yang berbentuk visual/grafis, dan ada yang berbentuk benda.

Kita tahu bahwa ragam bentuk karya sastra juga terpengaruh oleh budaya daerah asal karya tersebut. Misalnya saja Macapat. Merupakan salah satu karya sastra yang dipengaruhi oleh budaya Jawa pada zamannya.

Sedangkan untuk untuk zaman sekarang, karya sastra apabila dibagi-bagi berdasarkan kebangsaan mungkin akan jadi seperi ini.

Pertama karya sastra berwujud komik yang didominasi oleh bangsa Barat dan Asia Timur dengan gaya penggambaran komik yang dipengaruhi oleh budaya bangsanya.

Seperti Jepang terkenal dengan komik manga, sedangkan di Amerika komik masuk dalam kategori cartoon atau gambar kartun. Perubahan terjadi lagi apabila komik tersebut diakui dan diapresiasi oleh pembaca sehingga terkenal, maka akan dijadikan, anime untuk bangsa Jepang, dan akan dijadikan film cartoon untuk bangsa Amerika.

Apabila anime dan film cartoon memiliki daya tarik untuk penonton, akan dibuat juga movie dengan pemeran Manusia. Ia bukan lagi sebuah gambar bergerak. Seperti film Avengers dari Marvel Amerika dan serial Death Note dari Jepang.

Hubungan perubahan bentuk ini memang akan terjadi apabila karya tersebut memiliki daya tarik tinggi bagi pembaca, sehingga mereka akan mengikuti terus cerita komiknya. Terkadang urut-urutan perubahan tidak bisa diprediksi, untuk kondisi sekarang, pasarlah yang menentukan.

Tapi, melihat banyaknya pembuatan film yang diangkat dari novel, komik, buku biografi, tidak lain dan tidak bukan adalah karena minat pembaca dari karya tersebut banyak, sehingga diharapkan ketika menjadi film banyak pula penontonnya. Sehingga pasar menjadi peran utama dalam perubahan-perubahan bentuk karya sastra.

Melihat perfilman Indonesia di tahun 2017, bisa dibilang termasuk produktif, dengan kualitas gambar dan mode pengambilan gambar yang relatif sudah sama dengan perfilman di luar negeri. Beberapa film merupakan re-make ulang dari film yang sebelumnya, seperti film Jangkrik Bos yang merupakan re-make dari film Warkop DKI.

Film re-make terkadang memiliki cerita yang sama, setting sama, akan tetapi pemain-pemainnya berbeda, dan kualitas gambarnya disesuaikan pada zaman sekarang.

Apabila pembaca bertanya tentang butuh waktu berapa lama untuk perubahan bentuk karya sastra? Jawabannya sederhana: tergantung pasar yang menentukan. Terkadang ada yang butuh beberapa bulan sesudah peluncuran karya, dan terkadang ada yang perlu waktu beberapa tahun hingga menemukan momen yang klop.

Sumber gambar: style.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Gempa Tasikmalaya Membangunkan Trauma Gempa Jogja 2006

Gempa Tasikmalaya Membangunkan Trauma Gempa Jogja 2006

Tips Cara Mengatasi Perasaan Cemburu Buta

Tips Cara Mengatasi Perasaan Cemburu Buta