uget uget - Belajar Tauhid dengan Cak Nun Melalui Teater
Sumber gambar: iborart.deviantart.com
in

Belajar Tauhid dengan Cak Nun Melalui Teater

UGETUGET — Belajar tauhid dengan Cak Nun selalu menyenangkan. Tempat belajarnya tidak harus di pondok. Di panggung teater pun bisa.

Sebenarnya, tidak begitu lazim jika sebuah pertunjukan teater dberi pengantar, apalagi jika pengantar itu berupa ceramah yang bertema religius. Namun, karena yang memberi pengantar adalah Cak Nun, maka ketidaklaziman itu tidak menjadi mengganggu. Bahkan, saat kita mendengarkan Cak Nun, seolah-olah kita sedang menyimak sebuah pertunjukan tersendiri — tetapi bukan semata-mata pertunjukan, melainkan pertunjukan yang sekaligus merupakan tuntunan.

Cak Nun memulai pengantarnya dengan memperingatkan hadirin agar tidak terkejut apabila mencium suatu bau. Beliau seperti memberikan isyarat bahwa pertunjukan teater itu nanti akan melibatkan hal-hal yang belum bisa diterangkan dengan nalar ilmiah. Tentu saja, mau percaya atau tidak kepada hal-hal itu sangat bergantung pada epistemologi seseorang. Apabila dia berangkat dari iman, maka “bau” itu masuk akal lantaran ditegaskan dalam ajaran Islam. Dari sinilah kita mulai belajar tauhid dengan Cak Nun.

Apabila seseorang mengawali rangkaian penalarannya dengan nalar ilmiah yang angker, yang menuntut bukti-bukti empiris (dalil naqli) dan bukan hanya semata-mata bukti rasio (dalil aqli), maka “bau” itu tentu menantang untuk dicarikan penjelasan empirisnya. Dari mana pun titik berangkatnya, performance Cak Nun menjelang akhir pengantar tetap menggiring pada keterlibatan hal-hal yang belum bisa dijelaskan dengan nalar ilmiah itu.

Sebuah keris dihadirkan di panggung. Cak Nun menyebutnya sebagai keris bernama Kiai Bolorojo milik seorang raja, tetapi bukan raja Jawa seperti yang dikenal luas oleh masyarakat, melainkan sultan yang disebutnya sebagai Al-Malik. Beliau menjelaskan bahwa Al-Malik adalah orang yang sudah menghimpun “padatan-padatan” untuk mengasah kesucian hati. Keris itu kemudian diserahkan kepada Mbah Soimun, yang sudah bersiap di sisi panggung. Aura di luar logika ilmiah tentu terbentuk oleh gestur yang sangat meyakinkan ini.

Terlepas dari gestur-gestur di atas, Cak Nun selalu menarik untuk disimak. Seperti biasa, beliau menyisipkan humor dalam ceramahnya. Selain itu, sebagian besar dari pengantarnya ini disampaikan dalam bahasa Jawa, mungkin karena audiens pertunjukan teater yang dilaksanakan di Surabaya itu sebagian besar orang Jawa. Tapi, campur aduk bahasa Jawa dan bahasa Indonesia — serta bahasa Arab, tentu saja — tetap bisa diserap maksud atau isinya. Pada intinya, proses belajar tauhid dengan Cak Nun tetap lentur.

Didukung oleh retorika kelas wahid, logika berpikir kiai sekaligus penyair ini memang sering kali nyeleneh. Jadi, walaupun kita pada awalnya berniat belajar tauhid dengan Cak Nun, kita harus siap dengan sisipan-sisipan dari bidang lain. Misalnya, beliau mempersilakan jika ada yang menganggap pertunjukan teater yang akan dilaksanakan ini sebagai sebuah gerakan politik. Tetapi, Cak Nun memperingatkan bahwa politik di sini harus dimaknai sebagai diplomasi untuk mencapai hasil terbaik. Beliau bahkan menerapkan pengertian ini ke dalam ranah religius dalam kaitannya dengan tauhid.

Aroma tasawuf menguar kuat ketika Cak Nun menjelaskan bahwa pada tataran individu, setiap orang sebenarnya sedang melakukan politik dalam pengertian diplomasi itu, yaitu berpolitik kepada Tuhan. Ketika seseorang berdoa meminta keuntungan yang lebih dari seratus ribu, dan memohon seratus dua puluh ribu, maka dia sedang berdiplomasi dengan Tuhan. Politik semacam ini sah selama membantu mendekatkan diri kepada Tuhan. Belajar tauhid dengan Cak Nun yang seperti inilah yang membuat renungan religius terasa lebih berbobot.

Aroma tasawuf juga menguar sejak awal pengantar. Cak Nun mengajak hadirin untuk melakukan pembelajaran diri sendiri dalam rangka tauhid. Tauhid diartikannya sebagai perjalanan menuju meeting point, yaitu Allah SWT. Jika tidak melakukan pembelajaran ini, maka perjalanan manusia ini tidak akan sampai mempertemukannya dengan Allah, menjadi satu dengan Allah, dan tauhid tidak akan terwujud.

Yang menarik juga adalah statemen, entah bersifat faktual atau metaforis, bahwa tiga penjaga Pulau Jawa sudah meninggal pada tahun 2012. Ketiga penjaga itu bertempat di Kediri, Cirebon, dan Lamongan. Karena itu, Cak Nun mengingatkan bahwa tugas sebagai penjaga Pulau Jawa itu kini jatuh pada masing-masing individu. Beliau mengajak setiap individu untuk menjadi “orang baik” untuk menggantikan tugas penjagaan itu. Jadi, dalam proses belajar tauhid dengan Cak Nun ini, kita sekaligus diingatkan bahwa kita punya tugas sosial.

Tentu saja tetap ada joke politik. Cak Nun sempat berseloroh agar setiap individu berusaha menjadi “orang baik” atau “tidak jahat-jahat banget”. Kalau memang jahat sekali, sekalian saja menjadi ketua Partai Demokrat — partai Presiden SBY pada tahun 2012 itu. Tetapi, kembali Cak Nun menggeser penekanan itu ke arah pemahaman akan Allah, yaitu bahwa yang jahat dan yang baik itu pun sebenarnya selalu berada dalam wilayah Allah.

Cak Nun menegaskan bahwa yang disebut antitauhid itu sebenarnya tidak ada karena segala sesuatu berada dalam wilayah Allah. Hanya saja, Cak Nun menegaskan adanya pembedaan dalam wilayah Allah itu, yang disebutnya dengan ashabul yamin dan ashabul syimal, atau ashabul jannati ummul faizul dan ashabunnari ummul khosirun. Sekilas, ini membikin kita teringat pada salah satu statemen Nietzche, bahwa kebaikan dan kejahatan sama-sama berasal dari Tuhan.

Memang tema yang berat, tetapi dengan penyampaian yang menghibur, belajar tauhid dengan Cak Nun tetap selalu menantang pendengarnya untuk memikirkan, menghayati, dan mengamalkan segi-segi religius dari keberadaan manusia.

Sumber gambar: iborart.deviantart.com

Written by An Ismanto

Sedang berusaha menggeliat lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Peluncuran Vivo V7+ Serentak, Berapa Ponsel Yang Terjual?

Peluncuran Vivo V7+ Serentak, Berapa Ponsel Yang Terjual?

Ugetuget -- Bahaya Bitcoin: Tak Dilindungi Pemerintah

Bahaya Bitcoin: Tak Dilindungi Pemerintah