Update

Mengundang Garuda: Belajar Manajemen Kehidupan Seni Pertunjukan Dari Yuliono Singsot

UGETUGET – Tanggal 3 Oktober 2017 kemarin, di sebuah kampus negeri ada sebuah pertunjukan bertajuk: Mengundang Garuda. Saya kebetulan datang menonton. Dari acara tersebut, saya belajar manajemen kehidupan seni pertunjukan dari idola saya: Yuliono Singsot.

Memangnya apa yang saya pelajari? Sederhana saja, bagi Yuliono kesenian sudah menjadi laku (tindakan) dan menyatu dalam dirinya. Mungkin terkesan klise dan abstrak, tetapi bagi saya, itu hal yang paling realistis.

Di balik kelucuan dan tingkah kocaknya, saya mengenal Yuliono secara pribadi. Ia tidak perlu “dibesarkan” oleh promotor seni manapun. Bukan karena sombong, tapi menurut saya, Yuliono itu sudah menjadi “seniman besar”.

Jika tidak salah ingat, saat itu ada pagelaran Jogja Java Carnival di sepanjang jalan Malioboro pada tahun 2010. Saya merupakan peserta yang mengisi salah satu kendaraan karnaval. Seluruh peserta tergabung dalam kelompok atau komunitas dan diundang oleh penyelenggara.

Tetapi, sejak awal karnaval tersebut dimulai hingga sampai di titik finish: Alun-Alun Utara, saya melihat sosok yang wajahnya tidak asing. Meskipun sosok itu mengenakan make up seperti badut, lebih tepatnya Joker, saya tetap mengenalinya.

Ya, ia adalah Yuliono. Kostum yang ia kenakan sungguh simple. Sambil membawa koper, ia berjalan dan tersenyum kepada publik dan juga peserta.

Saat karnaval berjalan, kami sempat berbincang sebentar. “Ngopo kowe Yul neng kene? Kowe diundang pa?” tanyaku.

“Hehehe… Ora Kang… Tapi aku tetep pengen perform dingo ulang tahun Jogja. Makane aku perform dhewe, hehe hehe hehe…”

Jika mengingat jawaban itu, saya hanya tertawa. Saya tahu betul bahwa Yuliono adalah orang yang tulus. Hasrat untuk eksis itu pasti ada, karena eksis merupakan hal yang sangat manusiawi.

Tetapi kecintaan Yuliono kepada Yogyakarta sangatlah tulus. Meskipun tidak diundang, ia tetap menunjukkan rasa cintanya kepada Jogja dengan cara turut serta menyemarakkan karnaval tersebut.

Dari situlah saya tahu bahwa ia merupakan “seniman besar”. Tengok saja kehidupannya. Saat ini ia masih menjadi mahasiswa dari fakultas pertanian di kampus swasta Yogyakarta, dan ia masih ingin lulus.

Ia membiayai sendiri kehidupannya di Jogja, dari biaya tempat tinggal, kuliah, hingga kehidupan seninya. Ia bekerja keras untuk hal itu. Selain itu, hubungannya dengan sesama manusia, baik seniman, pengamen, tokoh masyarakat, semuanya baik-baik saja.

Meskipun tidak sedikit yang meremehkan dirinya, tetapi ia tidak peduli dan terus melakukan yang terbaik.

Jika saya ingin belajar manajemen kehidupan seni pertunjukan, saya rasa Yuliono adalah sosok yang tepat. Ia mahasiswa yang masih ingin lulus, mandiri, bekerja, bahkan kini sudah mendirikan Warung Kopi (Warkop) Singsot di Jalan Pakuningratan, dan darma keseniannya tetap dijalankan.

Sumber gambar: ugetuget.com

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi