Teknomotif

Bekerja di Google: Belajar dari Kantor Google yang Nyaman

UGETUGET — Bekerja di Google tentu menjadi impian sebagian besar generasi milenial yang melek teknologi. Memang seperti mimpi saja: bisa berpartisipasi dalam merawat mesin pencari dan layanan email yang paling banyak digunakan di dunia — dan tentu saja Android!

Tapi, bagi generasi milenial yang pengetahuan teknologi digitalnya kurang mendalam, mungkin mimpi untuk bekerja di Google lebih didorong oleh atmosfer kerja di kantor-kantor Google. Tentu juga ada faktor gaji atau upah yang diperoleh serta prestise atau gengsi.

Salah satu contoh atmosfer kerja di Google yang menyenangkan adalah penyediaan berbagai fasilitas gratis untuk karyawan. Di kantor-kantor Google, karyawan bisa memanfaatkan gym setiap hari tanpa potongan gaji atau tambahan biaya. Tujuannya memang untuk menjaga karyawan tetap sehat dan bisa bekerja secara maksimal.

Kemudian, ada arena permainan tempat karyawan bisa bermain game dan melepaskan kepenatan setelah bekerja. Ada juga sebuah kafe tempat para karyawan untuk menikmati makanan dan minuman secara gratis. Dan masih banyak lagi fasilitas lain!

Mungkin kamu tidak pernah membayangkan ada tempat seperti itu dalam sebuah pekerjaan kantoran. Bisa dibayangkan berapa pengeluaran bulanan yang harus dikeluarkan oleh Google untuk “memanjakan” para karyawannya.

Tentu, biaya sebesar itu tidak dikeluarkan tanpa perhitungan. Google tetap merupakan sebuah perusahaan salah satu orientasinya adalah memaksimalkan laba. Nah, atmosfer nyaman yang diciptakan bagi orang-orang yang bekerja di Google itu adalah dalam rangka mencapai laba maksimal itu.

Google menyadari bahwa agar manusia tetap kreatif, dia harus diberi kelonggaran untuk berkreasi dan berpikir. Semua fasilitas yang disediakan secara gratis itu dimaksudkan agar kreativitas karyawan tetap menyala-nyala. Tentu ada studi ilmiah yang mendasari keputusan ini.

Bekerja di Google: Bagaimana Jika Diterapkan di Indonesia

Sungguh, saya masih ragu apakah atmosfer yang dirasakan saat bekerja di Google itu juga bisa mencapai hasil seperti yang dicapai oleh Google. Sebagian besar orang Indonesia belum siap menghadapi tata kelola perkantoran yang baru ala Google.

Memang sudah ada beberapa perusahaan teknologi yang ada di Indonesia yang menerapkan sistem kerja seperti yang ada di Google. Salah satunya adalah Bukalapak. Ini adalah sebuah perusahaan rintisan atau start up yang sekarang menjadi besar.

Bukalapak membangun fasilitas yang menawan untuk para karyawan, seperti kafe, lapangan basket, dan tempat kerja yang cozy lengkap dengan berbagai macam atribut warna-warni yang menjaga kreativitas.

Tetapi tidak semua perusahaan mampu membangun kultur seperti ini. Banyak yang gagal membangunnya dan pada akhirnya karyawan justru hanya fokus bersantai-santai ria dan sibuk santai. Karyawan tidak bekerja untuk memajukan perusahaan tetapi justru hanya sekadar menikmati fasilitas yang diberikan oleh kantor. Alhasil, rugilah perusahaan yang ingin berbuat baik kepada karyawan itu.

Menurut saya, ada dua kesalahan. Pertama, kultur perusahaan belum siap, dan kedua, para karyawan yang belum siap menerima fasilitas mewah dan diberi kebebasan mutlak dalam bekerja.

Yang jadi masalah besar adalah kebebasan itu. Karena tidak terbiasa dengan kebebasan dalam bekerja, maka saat mereka diberi kebebasan itu mereka tidak bisa mengendalikan diri. Adakah kantor perusahaan yang seperti itu di Indonesia? Tentu saja ada, tapi tidak usah merek. Banyak kok.

Sehari di Kantor Pusat Google

Seperti apa keseruan jurnalis KompasTV, My Sister Tarigan, berkeliling dan belajar soal start-up di kantor pusat Google, California, Amerika Serikat?

Posted by Kompas TV on Saturday, September 9, 2017

Saya melihat beberapa lowongan pekerjaan yang menawarkan tempat kerja yang cozy, dan ada imbuhan kata kata “Kerja seperti main”.

Tentu saja ini merujuk pada perusahaan-perusahaan modern seperti Google dan Bukalapak. Tapi, lowongan pekerjaan tersebut dikirim oleh sebuah perusahaan kecil yang baru saja berdiri. Bukan meragukan, tetapi saya takut strategi itu tidak berhasil dan akhirnya start up yang baru berkembang kemudian layu.

Tapi, kenapa Google berhasil?

Selama ini saya mengganggap bahwa google memang hanya merekrut orang yang memiliki passion dalam bidang tertentu. Jadi, misalkan Google memiliki beberapa divisi seperti programmer, desainer, kreatif produk dan lain-lain. Maka, Google hanya merekrut orang-orang yang memiliki passion dalam bidang-bidang itu.

Ibarat kata, orang yang memiliki passion mau melakukan pekerjaan tersebut meskipun tidak dibayar. Google mau membayar banyak untuk pekerjaan tersebut ditambah lagi dengan segudang fasilitas yang memanjakan kreativitas. Tentu saja orang tersebut akan sangat senang dan betah bekerja di Google.

Dia akan terus mengembangkan kreativitas dan inovasinya akhirnya menjadikan Google sebagai perusahaan yang berbeda dibandingkan perusahaan teknologi lainnya.

Itulah kenapa Google bisa berhasil. Cocok dengan semboyannya: “Lakukan apa yang kamu cintai, maka kamu tidak merasa sedang bekerja”.

Sumber gambar: Seputarsemarang.com

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi