Dipak Das Bisa Menjadi Panutan Berkendara Bebas Pencemaran Udara & Suara
Sumber gambar: lenterakecil.com
in

Dipak Das Bisa Menjadi Panutan Berkendara Bebas Pencemaran Udara & Suara

UGET UGET – Daerah metropolitan seakan tak lepas dari permasalahan kemacetan, pencemaran udara dan suara. Salah satunya di kota Kolkata, India. Kolkata menjadi salah satu kawasan industri terbesar di India. Maka tak heran, aktivitas masyarakatnya banyak tumpah di jalan.

Kolkata pernah menjadi ibu kota India antara tahun 1833 sampai 1912, sebelum New Delhi. Tak heran Kolkata menjadi kota termacet di dunia. Dilansir detik.com dalam laman Travel News, Numbeo, situs database terbesar baru saja mengeluarkan Traffic Index 2016. Ditengok dari Numbeo, Rabu (6/1/2016), 10 kota dengan kemacetan terparah adalah:

1. Kolkata, India
2. Mumbai, India
3. Dhaka, Bangladesh
4. Nairobi, Kenya
5. Manila, Filipina
6. Istanbul, Turki
7. Gurgaon, India
8. Delhi, India
9. Kairo, Mesir
10. Teheran, Iran

Penilaian tersebut didasarkan pada tiga aspek; pertama, terkait waktu yang dihabiskan selama di jalan, kedua berapa banyak CO2 yang keluar selama macet, dan ketidakefisienan sistem yang terjadi selama kemacetan. Ternyata kota Kolkata di India dinobatkan sebagai kota paling macet di dunia tahun 2016 dengan indeks sebesar 363,15.

Dari data tersebut pun dapat dilihat sebanyak empat kota di India, yakni Kolkata, Mumbai, Gurgaon, dan Delhi masuk dalam daftar 10 kota termacet tersebut. Bila dibandingkan dengan kemacetan di Jakarta, berarti masih jauh lebih parah ya? Dari beberapa film India yang saya tonton, nampaknya kemacetan di India lebih disebabkan oleh aktivitas masyarakat yang tumpah ruah di jalan raya.

Banyak pedagang di pinggir jalan, pun banyak orang lalu lalang, belum lagi ditambah kendaraan yang lewat. Berbeda dengan kemacetan di Jakarta, nampaknya penuh dengan kendaraan bermotor, apalagi roda dua.

India sebagai negara yang terkenal kemacetannya, tak mengherankan ada penghargaan bagi pengendara kendaraan yang tak membunyikan klakson. Seorang pria India bernama Dipak Das berhasil mendapat penghargaan Manush Sanman karena tidak pernah membunyikan klakson selama 18 tahun terakhir.

Memang terdengar lucu, tetapi di negara seperti itu, tidak membunyikan klakson selama 18 tahun adalah sebuah prestasi yang wajib diapresiasi. Polusi suara sudah menjadi ekses dari kekacauan lalu lintas di sana. Banyak orang yang tak segan-segan membunyikan klaksonnya. Sikap tidak sabaran para pengendara juga makian pejalan kaki mungkin menjadi makanan sehari-hari di jalanan India. Namun banyak orang masih belum menyadari polusi suara karena klakson sebagai sebuah masalah.

Dilansir liputan6 dalam laman HindustanTimes, Dipak Das adalah seorang sopir yang berasal dari India. Penghargaan ini diadakan karena India terkenal dengan kekacauan pengendara dalam berlalu lintas. Pengemudi di India tak segan membunyikan klakson pada setiap kesempatan.

Penghargaan itu sendiri diselenggarakan oleh Manush Mela (Humanity Fair), dengan memferivikasi etiket mengemudi Dipak Das yang aman dan nyaman. Hal inilah yang membuat Das mendapat penghargaan Manush Sanman.

Masih dilansir liputan6, Dipak Das percaya India dapat menjadi negara yang aman, tenang, dan damai dalam hal berkendara. Bahkan nama Das sudah dikenal sebagai sopir selebritas India. Kebanyakan penumpangnya memuji sikap Das yang tidak membunyikan klakson.

Das sangat percaya pada kebijakan tanpa klakson. Seorang sopir yang mengikuti kebijakan tanpa klakson akan menjadi lebih waspada saat mengemudi. “Jika pengemudi tersebut berkendara dalam kecepatan dan waktu yang tepat, dia tidak perlu menggunakan klakson,” ujar Das.

Bahkan saat penumpangnya sudah geregetan dan meminta Das untuk membunyikan klakson, dia dengan sopan menolak dan mengatakan hal itu bukan solusi atas masalah kemacetan di negaranya. “Ini bukan sesuatu yang tidak bisa diraih, ini tidak sulit untuk dicapai,” kata Das.

Ada ya orang sesabar itu? Jangankan di Jakarta, dengan perilaku berkendara masyarakat Yogyakarta saat ini saja saya sudah mengelus dada. Banyak pengendara yang menjadikan klakson sebagai cara meluapkan emosi di jalan raya. Sebagai cara “memaki” pengemudi lain yang berkendara serampangan. Rasanya plong sekali setelah membunyikan klakson panjang atau setidaknya mengklakson berkali-kali.

Dengan melihat kesabaran Dipak Das, setidaknya ini bisa menjadi pelajaran untuk kita dalam hal berkendara. Kalau disadari, memang polusi suara membuat pikiran mudah penat dan stress. Kendaraan yang satu dengan kendaraan yang lain saling bersaut-sautan klakson layaknya suasana kebun binatang.

Setidaknya kesabaran Dipak Das bisa kita tiru untuk Indonesia yang aman dan nyaman di jalan raya.

Sumber gambar: lenterakecil.com

https://www.youtube.com/watch?v=If-eUcY0ttI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Liverpool dan AC Milan Sudah Tidak Senasib Lagi

Liverpool dan AC Milan Sudah Tidak Senasib Lagi

Part II Pernikahan Salmafina dan Taqy Malik Bagaimana Imbasnya?

Part II: Pernikahan Salmafina dan Taqy Malik Bagaimana Imbasnya?