Bayawon, Pemuda Pengais Sampah yang Berhasil Menjadi Sarjana
Sumber gambar: pinoytrendingnews.online
in

Bayawon, Pemuda Pengais Sampah yang Berhasil Menjadi Sarjana

UGETUGET | Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar seorang pemuda pengais sampah? Apakah ia adalah seorang yang kotor, pemalas dan tak mau sekolah? Pasti banyak yang memandangnya rendah, kan? Tapi bagaimana kalau dia adalah seorang sarjana?

Anak muda tentunya ingin sekolah. Demi untuk meraih cita-cita ataupun untuk membanggakan kedua orang tuanya. Walaupun ia adalah seorang pengais sampah.

Hal ini juga dialami oleh seorang pemuda yang bernama Jeb Baclayon Bayawon. Ia sempat berpikir bahwa dia akan mengumpulkan sampah dan botol plastik kosong sepanjang hidupnya.

Tetapi Itu semua berubah setelah ia mengambil kesempatan untuk mengejar pendidikan melalui bantuan yayasan yang didanai pihak asing. Wah keren sekali ya!

Bayawon yang dibesarkan di tempat pembuangan sampah itu selalu memulung sampah yang bisa didaur ulang dan botol plastik kosong untuk membantu orangtuanya mencari nafkah. Ia menjual botol ke toko-toko barang bekas.

Bayawon pun mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah dan memasaknya lagi di rumah. Terlepas dari situasinya, ayah Bayawon-lah yang menanamkan pikiran keras di kepalanya bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas.

Ayahnya selalu menyarankan untuk sekolah. Tetapi ada sedikit hambatan saat ia sekolah. Ketika ia masih duduk di SD, beberapa teman sekelasnya menyindir tentang tempat tinggalnya di pembuangan sampah dan tidak memiliki kebersihan yang layak.

Dan setiap kali ia membuka bekal makanan saat jam istirahat, mereka meringis karena tahu bahwa itu berasal dari sampah.

Tetap Semangat Dan Optimis

Kisah ispiratif seorang pengais sampah yang berhasil menjadi seorang sarjana muda
Sumber gambar: pilipinofeed.com

Di-bully dan mengalami intimidasi membuat Bayawon tak mau pergi ke sekolah. Hingga akhirnya sang ayah menderita tuberkulosis dan membuatnya putus sekolah.

Pada saat usia 12 tahun, ayahnya meninggal. Dan tidak lama setelah itu ibunya juga menghembuskan nafas terakhir karena terkena penyakit hipertensi.

Pada tahun 2007, ketika ia sedang mengolah sampah di tempat pembuangan sampah bersama anak-anak lain, Bayawon diwawancarai oleh Thomas Kellenberger, mantan penegak hukum dari Swiss.

Thomas adalah seorang pendiri organisasi bantuan swasta yang mengadvokasi hak anak-anak miskin untuk mendapatkan pendidikan di Filipina.

Dan Bayawon kemudian menjadi salah satu penerima beasiswa untuk mendapatkan kesempatan kembali sekolah.

Yayasan memberinya persyaratan yang diperlukan untuk sekolah mulai dari biaya sekolah, uang saku, hingga penginapan. Lalu Bayawon pun meninggalkan tempat pembuangan sampah.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di salah satu sekolah lokal di kota, ia mengambil sistem pembelajaran alternatif sehingga bisa mengejar pendidikan tinggi di usianya.

Ketika ia lulus penilaian dan Tes Kesetaraan, ia bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Yayasan telah mendorongnya untuk terus mengejar cita-citanya, hingga ia mengikuti ujian masuk di Mindanao State University-Naawan.

Setelah lulus ujian masuk, ia memilih menjadi sarjana muda bahasa Inggris karena minatnya dalam bahasa dan mimpinya adalah menjadi seorang pendidik.

Bayawon telah mengambil lompatan besar dari mengais-ngais makanan di tempat pembuangan sampah hingga mendapatkan gelar sarjana. Ia pun berencana menggunakan gelar dan pengalamannya dalam mengajar untuk membantu banyak orang menuju masa depan yang menjanjikan.

Written by Rizky

Manusia Rock n Roll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Energi Listrik dari Perkebunan Kincir Angin

Energi Listrik dari Perkebunan Kincir Angin

Jangan Biarkan Sakit Hati Berkepanjangan Karena Putus Cinta

Jangan Biarkan Sakit Hati Berkepanjangan Karena Putus Cinta