Ugetuget -- Bahaya Bitcoin: Tak Dilindungi Pemerintah

Bahaya Bitcoin: Tak Dilindungi Pemerintah

UGETUGET — Bahaya Bitcoin terletak pada tidak adanya perlindungan hukum oleh pemerintah.

Memang sulit menghadapi sesuatu yang baru. Perubahan apa pun selalu menimbulkan masalah untuk sebuah sistem. Apalagi, jika sistem itu adalah sistem keuangan, yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. “Masalah” itulah yang ditimbulkan oleh Bitcoin.

Tetapi atribut “masalah” ini tentu jika dipandang oleh pihak-pihak yang sudah menikmati keuntungan dalam sistem keuangan konvensional yang didasarkan pada mata uang fiat (mata uang yang disepakati sebagai pembayaran yang sah).

Atau, mereka semata-mata khawatir bahwa perubahan yang ditawarkan oleh Bitcoin akan menimbulkan guncangan. Mungkin, mereka khawatir bahaya Bitcoin akan terlalu besar untuk ditanggung oleh sistem dan pendukungnya, yaitu sang homo economicus.

Bank Indonesia termasuk pihak yang khawatir dengan itu. Sehingga, otoritas keuangan tertinggi di Indonesia ini, sejauh ini, tidak menerima cryptocurrency sebagai mata uang yang sah untuk dipergunakan di wilayah hukum Indonesia.

Dalam siaran pers yang diterbitkan pada 6 Februari 2014, BI menyatakan dengan tegas:

Memperhatikan Undang-undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU No. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 2009, Bank Indonesia menyatakan bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Masyarakat dihimbau untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya. Segala risiko terkait kepemilikan/penggunaan Bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik/pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya.

Alasan yang sering diajukan tentang bahaya Bitcoin adalah bahwa mata uang digital ini, disebabkan oleh konfigurasi teknisnya, rawan dimanfaatkan untuk pencucian uang, transaksi narkoba, dan tindak kriminal lainnya.

Kendati demikian, sebagaimana dikutip dari Kompas, BI tidak menetapkan peraturan yang secara khusus melarang penggunaan Bitcoin. Ini berarti para pemilik Bitcoin masih bisa bebas bertransaksi dengan mata uang tersebut. Hanya saja, tidak ada perlindungan hukum apabila terjadi kasus-kasus seperti pencurian atau penipuan yang melibatkan virtual currency itu. Inilah bahaya Bitcoin yang harus siap dihadapi oleh investor.

Bagi sebagian orang yang pada masa lalu sudah terbukti mampu meramal dan memperoleh keuntungan besar dari perubahan teknologi, Bitcoin bukanlah masalah melainkan potensi besar.

Dalam sebuah konferensi keuangan di Boston, AS, pada tahun 2014, Bill Gates menyatakan:

“Bitcoin is exciting because it shows how cheap it can be,” he told Erik Schatzker during a Bloomberg TV’s Smart Street show interview yesterday. “Bitcoin is better than currency in that you don’t have to be physically in the same place and, of course, for large transactions, currency can get pretty inconvenient.”

Lebih lanjut, Gates menegaskan:

“…in the future, financial transactions will eventually “be digital, universal and almost free.”

John McAfee, pakar keamanan digital pencipta peranti lunak antivirus McAfee, bahkan lebih tegas lagi mengungkapkan tentang potensi besar Bitcoin ini dalam cuitannya pada pertengahan Juli 2017.

McAfee bahkan seolah menantang bertaruh dengan meramalkan bahwa nilai Bitcoin dalam tiga tahun ke depan akan mencapai $500.000.

Jika prinsip dasar investasi adalah memperoleh imbal hasil setinggi-tingginya dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka periode menunggu tiga tahun itu ringan tetapi jumlah uang sebesar itu tentu luar biasa.

Jika semakin banyak orang yang akhirnya menerima cryptocurrency, maka lama-kelamaan pemerintah Indonesia tentu akan luluh dan mengesahkan penggunaan Bitcoin sebagai mata uang digital yang sah.

Tapi, untuk saat ini, khususnya di Indonesia, memang harus diakui bahwa Bitcoin masih memiliki risiko tinggi, terutama karena tidak ada perlindungan hukum yang sangat penting dalam segi apa pun yang terkait dengan keuangan.

Namun, bukan berarti tidak ada yang mencoba. Sudah ada beberapa penambang Bitcoin di Indonesia, walaupun belum jor-joran seperti penambang Bitcoin di Tiongkok ini.

Kalangan bisnis pun sepertinya mulai melihat potensi besar Bitcoin. Salah satu bisnis Indonesia yang sudah berani menempuh risiko adalah bisnis milik keluarga Tahir, yang mulai menerima pembayaran dengan Bitcoin.

Jadi, peringatan dari BI bukan alasan untuk tidak mulai memikirkan investasi dengan Bitcoin, bukan?

1

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu