Merumuskan Ayat Suci yang Ramah Medsos
Sumber gambar: emka.web.id
in

Merumuskan Ayat Suci yang Ramah Medsos

UGET UGET – Media sosial merupakan dunia yang begitu bebas. Siapa pun bisa andil dalam perkara apa pun, mahir atau tidak mahir bukan persoalan. Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D, salah satu dari sedikit orang yang mahir di bidangnya, namun tulisan-tulisannya dapat disaksikan dalam timeline medsos kita, di antara tulisan-tulisan hoax dan tak patut.

Mencari profesor yang masih peduli terhadap masalah-masalah medsos sudah sangat susah. Nadirsyah Hosen, profesor dalam bidang agama Islam, sekaligus pengajar senior di Monash Institute Australia, memberikan pemahaman-pemahaman dari persoalan keseharian di medsos yang menyangkut agama Islam.

Merumuskan Ayat Suci yang Ramah Medsos
Sumber gambar: emka.web.id

Secara garis besar, penafsiran yang dilakukan Nadirsyah mencakup dua aspek. Pertama tentang ayat-ayat moral yang berhubungan dengan perilaku manusia di media sosial. Kegemaran membuat berita palsu (hoax), tradisi bully yang semakin marak, sentimen terhadap golongan dan paham yang berbeda, semuanya dijabarkan oleh Nadirsyah sesuai pandangan al-Qur’an.

Perkara bully, Nadirsyah mengutip ayat 13 dari surat al-Hujurat, “Janganlah kaum lelaki dan perempuan mengolok-ngolok yang lain, boleh jadi yang diolok-olok itu lebih baik dari mereka.” Bahkan dalam situasi kita yang benar dan dia yang salah, mengolok-olok tetap tidak diperbolehkan. Dalam sejarahnya, ayat ini diturunkan lantaran sikap para sahabat yang dahulu suka mengolok Shafiyah, salah satu istri Nabi, lantaran keturunan Yahudi. Ayat ini, bagi Nadirsyah, mempertegas tentang larangan mem-bully dalam bentuk dan motif apa pun (hal. 139-144)

Masalah hoax menjadi salah satu yang paling disorot dalam buku ini. Nadirsyah mewanti agar netizen harus secara jeli memilah dan memilih berita yang benar, serta tak mudah terhasut berita-berita yang negatif.

Aspek kedua, dan hal ini yang banyak kita jumpai dalam hampir seluruh tulisan dalam buku ini, adalah merebaknya politisasi ayat-ayat al-Quran. Ayat-ayat al-Quran diterjemahkan dan dimaknai sebebas-bebasnya agar sesuai dengan kepentingan suatu golongan untuk menjatuhkan golongan lain.

Di media sosial yang bersifat sentimental dan mendahulukan perasaan ketimbang pemikiran jernih, ayat-ayat al-Qur’an dijadikan sarana untuk membenci dan mencaci. Ditambah dengan berita-berita negatif yang mengeruhkan keadaan.

Kehadiran Nadirsyah layaknya oase terhadap tulisan-tulisan yang mendalam namun praktis dan aplikatif dalam keseharian kita di media sosial. Dan, penafsiran-penafsirannya, meski masih sederhana dan terkesan terburu-buru, adalah sesuatu yang baru dalam jagat penafsiran al-Qur’an. Al-Qur’an, sebagai kalam Ilahi, harus menebarkan kebaikan, sampai ke timeline media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Prince Adam KW Super, Cewek Mana yang Tak Meleleh Memandangnya

Prince Adam KW Super, Cewek Mana yang Tak Meleleh Memandangnya

Petani Menyejahterakan, Petani Disejahterakan

Petani Menyejahterakan, Petani Disejahterakan