Ayam Jago di Lintasan Laut China Selatan
Sumber gambar: www.pixoto.com
in

Ayam Jago di Lintasan Laut China Selatan

UGET UGET – Pertama-tama, pikiran kita perlu disterilkan dari kapal perang dan saling pamer kekuatan di Laut China Selatan. Kedua, perebutan kekuasaan hanyalah dampak lanjutan dari praktik perdagangan yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Duh, nggak usah bicara ISIS dulu yang katanya sedang pindah-pindah wajan dan pancinya ke Laut China Selatan. Saya sangsi apa mereka bisa berenang. Wong mereka dari gurun pasir.

Mending kita bicara ayam jago. Riwayatnya segarang lompatannya, sejarahnya lebih tua dari motor antikmu. Sayang pemiliknya yang suka mencat-mencat di ring persabungan sering diburu polisi. Sepertinya harus ada Dewan Keamanan Ayam Jago, biar pembicaraan kita tidak disadap polisi dunia maya.

Ayam jago sama tuanya dengan kebudayaan nenek moyangku. Di kitab La Galigo yang katanya UNESCO merupakan kitab sastra terpanjang, para raja di Sulawesi sangat hobi sabung ayam. Acara adat tidak afdal kalau tidak didahului sabung ayam. Bahkan sosok La Galigo sendiri, yang jadi judul kitab itu, adalah orang yang tidak pernah kalah dalam urusan mengadu ayam.

Kayaknya orang-orang di tempatku adalah orang yang paling tekun mempelajari sejarah. Kitab La Galigo tidak pernah dipelajari di bangku sekolah. Mungkin mereka belajar sendiri di rumah, dan menyimpulkan bahwa sabung ayam adalah kebudayaan yang besar dan harus dilestarikan.

Ya jadinya mereka sering diburu polisi. Kalau saja polisi tekun belajar sejarah, sebenarnya sabung ayam tidak melulu masalah judi, tapi ada kebudayaan luhur yang sama luhurnya dengan Candi Borobudur.

Memang ada judinya sih, tapi sedikit. Mungkin belum masuk kategori haram, kata pak ustadz yang suka ikut main. Tapi toh perjudian itu yang jadi motivasi tersendiri agar tidak kalah. Sertifikat tanah bisa melayang kalau kalah.

Nah, lanjut, gan. Lalu apa hubungannya Laut China Selatan dengan ayam jago? Begini. Hubungannya agak kompleks, melibatkan TKI yang kebanyakan bekerja di Malaysia dan tuntutan untuk menang di ring persabungan ayam.

Kalau mau menang ya harus pintar-pintar pilih ayam jago. Lompatannya kuat dan tinggi, kalau bertahan bagus. Suara merdunya itu tambahan. Dulu-dulu, ayam jago yang paling jago adalah ayam hutan. Tentu karena tidak manja. Makan cari sendiri. Sakit diobati sendiri, tidak pernah disuntik kayak ayam kampung yang manja.

Alhamdulillah, program transmigrasi di masa Soeharto juga sampai di desa-desa yang hobi sabung ayam seperti desa saya. Jadilah banyak yang merantau terutama ke Kalimantan dan Malaysia. Pulang-pulangnya jadi tuan tanah dan tuan ayam.

Akses untuk mendapatkan ayam jago tidak lagi di hutan tok. Kini semakin meluas, melintasi beberapa jalur yang masuk jalur perdagangan Laut China Selatan. Pertama-tama, para TKI itu membawa ayam dari Filipina secara diam-diam, maksudnya tidak divaksin terlebih dahulu. Dari Filipina dibawa ke Malaysia, diseberangkan lewat Kalimantan, dan mati di ring Sulawesi.

Ayam Filipina masih diperdagangkan, tambah ayam Bangkok yang pasti asalnya dari Bangkok. Body-nya lebih besar. Suaranya lebih lantang. Tapi tetap mati juga. Ada yang memang sudah ajalnya, ada juga yang syahid di medang persabungan.

Nah, sudah sekitar tiga tahun ini primadona baru masuk radar orang-orang kaya di meja perjudian. Tokoh kita bernama ayam Peruvian, diimpor dari Peru. Sepertinya ayam jago semakin hebat kalau lahirnya semakin jauh dari Indonesia.

Ayam Peruvian masih memakai jalur yang lama. Dari Peru ke Filipina, Malaysia, lalu diseberangkan lewat Kalimantan. Penyalurnya juga masih sama, TKI. Bedanya, kalau dulu ilegal sekarang legal. Vaksinasi, pengecekan kesehatan, paspor, dan visa. Bandarnya bisa rugi besar kalau ilegal. Harga di pasarannya sekitar 15 juta. Bayangkan kalau ayam yang dibeli ternyata terjangkit virus HIV dan sudah hampir sakratul maut.

Body-nya tidak sebesar ayam Bangkok, tidak sekecil ayam Filipina. Yang sedang-sedang saja. Tapi tendangannya lebih kuat dari ayam Bangkok, dan kalau menghindar selihai ayam Filipina. Wong memang mahal, ngapain beli kalau keok dari ayam murahan.

Ada sih yang murah, tapi KW. Ada KW Filipina, ada juga KW lokal. Harganya tidak jauh beda, sekitar 2,5-3 juta. Tapi namanya KW, biasanya cuma sekali pakai. Memang kebanyakan di ring persabungan orang-orang pakai yang KW. Mungkin masih terlalu eman, membuang-buang 15 juta. Yang asli biasanya hanya disuruh untuk “bermalam Jumat” dengan betina lokal.

Saya kadang-kadang tidak mau membayangkan bagaimana malam jumat para tentara yang berjaga di Laut China Selatan, tanpa pacar atau istri. Hanya untuk menjaga ayam-ayam jago biar sampai tujuan dengan selamat. Mending berbaik sangka saja, mungkin mereka lagi makan paha ayam. Syukur-syukur tidurnya ditemani paha ayam dalam arti yang lain.

Sumber gambar: www.pixoto.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Bingung Cari Oleh-Oleh Khas Jogja, Ke Sini Saja

Bingung Cari Oleh-Oleh Khas Jogja, Ke Sini Saja

Sehat dengan Menjauhi Rumah Sakit dan Obat

Sehat dengan Menjauhi Rumah Sakit dan Obat