Atif dan Peristiwa Sehari-Hari yang Harus Ditulis
Sumber gambar: www.radiosilaturahim.com
in

Atif dan Peristiwa Sehari-Hari yang Harus Ditulis

UGET UGET – Sudah menjadi kebiasaan bagi Atif, sebelum membaringkan diri di malam hari, terlebih dahulu ia berjalan-jalan di sekitar perumahan tempat tinggalnya. Berkali-kali ia menghirup udara malam, sembari mengeluarkan asap rokok yang mengepul.

Atif kini telah menjadi sarjana sejarah dari salah satu kampus ternama. Sebagai pertanggungjawaban atas gelar dan ijazah yang ia dapat dengan biaya dan rentang waktu yang tak mungkin kembali, satu-satunya ritual yang biasa ia lakukan adalah mengingat masa lalunya. Toh masa lalu juga sejarah, meski tak seorang pun mengenangnya.

Maka di malam-malam seperti inilah kepekaan sejarahnya muncul. Sebab di waktu lain, Atif hanyalah seorang pelaku bisnis kecil-kecilan di dunia maya, merayu setiap orang untuk membeli produknya, serta memastikan barang sampai di tujuan di waktu yang telah ditentukan.

Ia terkadang tak sadar, ternyata sejarah memang berjalan terlalu cepat, seperti halnya buku-buku mencatat peristiwa. Satu buku dapat meringkas peristiwa yang terjadi selama 70 tahun! Betapa takjubnya. Sebagaimana ia takjub pada bulu kumis yang semakin lebat, kerutan-kerutan kening yang mulai terlihat.

Serasa baru kemarin ia menjadi seorang bocah yang ditanyai oleh guru SD tentang cita-citanya. Atif mantap menjawab polisi. Tanpa pertimbangan tinggi badan, atau tak menduga kelak di SMU ia terlibat adu jotos dengan teman sekelas dan gigi gerahamnya rontok. Maka rontok pulalah cita-citanya berseragam polisi.

Karena peristiwa itu pula, ia dihukum skors selama satu minggu dan membuat nilainya anjlok. Lantas ia dipindahkan ke jurusan IPS, jurusan yang di masa itu berarti tempat anak-anak yang tak kuat menghapal rumus kimia dan fisika, dan anak yang dicap nakal seperti dia tentunya.

Masuk kuliah, Atif memilih jurusan sejarah. Ia paham, kalau satu-satunya anugerah Tuhan yang ia syukuri adalah kemampuannya mengingat peristiwa hidupnya secara detil. Bagaimana ia tak merasakan kesakitan ketika giginya lepas, atau tentang ketegangan yang ia rasakan ketika mengungkapkan cinta pada Putri, lengkap dengan detil-detil kecil seperti bunga, warna tembok sekolah, bahkan cuaca.

Ah, apa yang Putri kerjakan malam begini. Apa ia masih melek membaca buku, atau terlelap dan bermimpi lantas besoknya mimpi itu menjadi kenyataan. Kabarnya dia menerima beasiswa S2 di luar negeri, dan sepulangnya nanti telah ditunggu beberapa kampus besar.

Antara Atif dan Putri terdapat perbedaan yang sangat mencolok. Atif tak terlalu klimis sebagai lelaki, sementara Putri terlalu sial jika sampai jatuh hati pada Atif. Tapi bukankah jurang itu dapat disatukan dalam sejarah? Atif bisa menyebut banyak contohnya, seperti Marco Polo yang bekerja sama dengan Genghis Khan menaklukkan China, sementara keduanya tak memiliki kesamaan sama sekali, terutama fisik.

Dan begitulah Atif menjalani kehidupannya sebagai mahasiswa. Kadang ia menjadi Napoleon, kadang Don Quixote yang penyendiri, dan lebih sering menjadi Bung Karno ketika turun ke jalan. Ia berharap, kelak namanya diabadikan di dalam buku-buku, menjadi penanda babakan sejarah yang besar. Setidaknya dikenang oleh Putri dan anak-anak mungil yang ia lahirkan.

Namun pena ternyata tak pernah menulis namanya. Memang sejarah berjalan terlalu cepat, dan tak ada waktu untuk berhenti sekadar menyapanya. Di akhir-akhir kuliah, ia tentu menyadari satu hal yang pasti: setiap manusia adalah pelaku sejarah, dan buku-buku sejarah akan menjadi terlalu tebal jika semua sejarah manusia dituliskan.

Jangankan dirinya, ia mengingat dahulu seseorang membakar diri di depan Gedung DPR sampai hangus dan meninggal. Beberapa hari peristiwa itu disiarkan. Sekarang dilupakan, seakan-akan tidak pernah terjadi. Sementara nama koruptor terus diulang-ulang setiap siaran televisi. Nah, apalagi Atif. Berapa ribu mahasiswa yang pernah turun ke jalan dan mendemo. Toh hanya satu dua orang yang namanya ditulis, itupun hanya keberuntungan.

Atif sadar, dirinya hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang selalu ingin tampil di depan, mendapatkan tempat dalam sejarah. Berapa banyak pemuda di negeri ini yang termabukkan buaian ketenaran seperti dirinya. Namun pada akhirnya tetap tak menjadi siapa-siapa.

Ada buruknya, ada pula baiknya. Selain kebiasaan berjalan-jalan di malam hari, Atif pun terus menulis peristiwa sehari-hari. Mungkin saja peruntungan akan berbaik hati padanya. Sebab ia tahu, sejarah akan disebut sejarah ketika dituliskan. Sejarah hanya akan menguap bersama udara malam dan kepulan asap jika hanya disimpan sendiri di dalam pikiran.

Sumber gambar: www.radiosilaturahim.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Jika Nicholas Saputra Jadi Driver Go-Jek

Jika Nicholas Saputra Jadi Driver Go-Jek

Generasi Milenial tentang Zaman Milenial

Generasi Milenial tentang Zaman Milenial