Asbes Material Bahan Bangunan yang Berbahaya Bagi Kesehatan
Sumber gambar: economy.okezone.com
in

Asbes Material Bahan Bangunan yang Berbahaya Bagi Kesehatan

UGET UGET – Untuk melindungi atap rumah, asbes masih menjadi pilihan. Di Indonesia, bahan bangunan ini masih banyak digunakan untuk atap rumah, sekolah, pasar, toko, bahkan rumah sakit. Harganya yang murah, bahannya yang kuat, mampu bertahan pada temperatur tinggi, dan tahan lama menjadi pertimbangan untuk tidak memilih genting dari tanah liat.

Asbes juga sifatnya tahan terhadap panas dan zat kimia pada atap bangunan. Di toko bahan bangunan, asbes biasanya dihargai kisaran Rp 45-80 ribu dengan variasi ukuran yang berbeda. Namun tahukah kamu? Penggunaan asbes telah dilarang total oleh banyak negara karena bisa memicu kanker.

Bahan bangunan ini dinilai berbahaya bagi pernapasan. Sebab serat asbes begitu kecil dan halus, serta dapat membawa efek karsiogenik yang mematikan. Apabila sampai terlepas ke udara dan terhirup oleh manusia, debu asbes akan mengendap di paru-paru dan memicu iritasi.

Gejala awalnya mungkin terlihat sepele dan ringan, seperti bantuk dan badan lelah. Namun jangka panjangnya, kondisi ini bisa merusak paru-paru dan sulit untuk disembuhkan. Dampaknya baru akan dirasakan 10-50 tahun ke depan.

Sayangnya, dilansir voaindonesia, Indonesia masih menjadi negara ke lima terbesar pengguna asbes di dunia, setelah India, China, Rusia, dan Brazil. Ini tentu menjadi keprihatinan bagi instansi kesehatan.

Untuk itu, Indonesia mencoba mengurangi dampak asbes, salah satunya dengan menetapkan standar batas pernapasan. Sebelumnya ILO juga regulasi yang menetapkan Batas Paparan (Exposure Limits) dari asbes.

Mengutip jurnal Iptek Ilmiah Populer (Thamrin & Akhadi, 2004: 72), ketentuan Badan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja AS (OSHA) mematok 2 serat asbes per 1 cm3 udara. Ini berarti dalam 1m3 ruangan hanya boleh ada sebanyak-banyaknya 2.000.000 serat yang beterbangan di udara. Jika perkiraan rata-rata berat satu serat asbes adalah 0,033 nanogram (ng), maka dari 2 juta serat itu total beratnya hanya 67.000 ng atau 0,000 067 g.

Nah jika diandaikan sebuah ruangan berukuran 1.000 m3, dengan ukuran panjang 20 m, lebar 10 m dan tinggi 5 m, berarti menurut standar OSHA hanya membolehkan adanya 0,067 gram serat asbes.

Kartini Rustandi, Kementerian Kesehatan melihat standar batas pernapasan perlu dilakukan berjenjang mengingat wilayah Indonesia sangat luas. Saat ini pihaknya sudah memulai melakukan sosialisasi. Memang butuh upaya yang jitu untuk dapat mengubah persepsi masyarakat akan buruknya penggunaan asbes.

Tidak terlalu jelas batas pernapasan seperti apa yang dimaksud. Namun yang terpenting adalah sebisa mungkin mengurangi penggunaan asbes, baik untuk apapun itu. Kalau ada barang substitusi yang jauh lebih aman, mengapa tidak?

Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk peka terhadap gejala apapun yang muncul dalam tubuh. Apabila dada terasa nyeri, sesak napas, kesulitan bernapas, atau batuk tak kunjung sembuh sebaiknya segera periksakan ke dokter. Sebagai upaya pencegahan, sebaiknya gunakan masker untuk meminimalkan risiko.

Sumber gambar: economy.okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Part I Kenapa Pernikahan Taqy Malik Salmafina Berakhir Tragis?

Part I: Kenapa Pernikahan Taqy Malik Salmafina Berakhir Tragis?

Tanggapan Untuk Lampu Lalu Lintas Dengan Ikon Pria Wanita Berpasangan di Taiwan

Tanggapan Untuk Lampu Lalu Lintas Dengan Ikon Pria Wanita Berpasangan di Taiwan