Manfaat Mengajarkan Anak Tidur Sendiri
Sumber gambar: manado.tribunnews.com
in

Manfaat Mengajarkan Anak Tidur Sendiri

UGET UGET – Bisa karena biasa. Begitu pepatah mengatakan. Setiap karakter dan kepribadian adalah cerminan dari kebiasaan sehari-hari. Jika dari kecil, seorang anak dibiasakan untuk hidup mandiri, dewasa nanti akan menjadi orang yang mandiri. Sebaliknya, jika terbiasa melakukan hal-hal yang tidak baik untuk masa depan, maka begitulah pembawaan dan karakternya hingga dewasa.

Tahukah Bunda, bahwa kebiasaan anak untuk tidur sendiri memiliki banyak manfaat yang bisa menjadi bekal kehidupan dewasanya. Tak jarang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, ada orang dengan karakter yang kuat serta self confidence yang tinggi, berawal dari kebiasaan yang dianggap sepele ini.

Mulai umur berapa anak perlu pisah tidur dengan orang tua? Beragam jawaban untuk pertanyaan ini. Sebuah penelitian di Jurnal Pediatric menyebutkan, anak umur empat bulan sudah bisa dipisah. Akademi Dokter Anak Amerika (AAP) menyarankan enam bulan ke atas. Banyak pendapat yang lain, tetapi pada intinya sama, bahwa sedini mungkin seorang anak perlu dilatih untuk tidur sendiri. Bahkan semenjak sang anak sudah bisa mengenali dan mulai belajar memahami segala hal, sebaiknya ia dibiasakan untuk tidur sendiri.

Setidaknya ada tiga manfaat yang bisa dijadikan seorang anak untuk bekal menuju kehidupan dewasa, jika sedari dini sudah diajari untuk tidur sendiri.

1. Mengajarkan Privasi

Tidak bisa dipungkiri, orang tua membutuhkan ruang sendiri sebagai privasi, apakah untuk berdiskusi atau melakukan hubungan intim. Sebaiknya juga sang anak tidak pernah melihat orang tuanya mengganti baju atau melihat bagian-bagian intim yang lain.

Akibatnya terlalu berbahaya. Jika sampai seorang anak melihat bagian intim orang tuanya atau bahkan melihatnya berhubungan intim, maka pemandangan itu akan membekas di dalam otaknya, memikirkan hal itu terus-menerus, dan pada akhirnya bisa saja mencontoh di usia yang tidak seharusnya dilakukan. Sangat berbahaya, bukan?

Mengajarkan privasi bagi anak adalah salah satu cara orang tua untuk melindunginya dari pergaulan bebas. Sebab, jika dia terbiasa menjaga privasi sendiri, terutama bagian intimnya sendiri, ia akan selalu merasa risih untuk memasuki dunia pergaulan bebas ketika dewasa nanti.

2. Mandiri dari kecil

Seorang anak harus dilatih untuk mandiri sejak kecil, dari hal yang paling sederhana. Mulai dari bagaimana melatih anak untuk bisa mandi, makan, bahkan tidur sendiri. Hal ini sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter manusia yang bisa melakukan apapun sesuai dengan kapasitas dan keinginannya.

Mendidik anak untuk manja adalah salah satu kesalahan paling fatal dalam pendidikan anak. Bayangkan, bila ketika dewasa nanti, sang anak tidak bisa memikirkan arah kehidupannya sendiri, tidak bisa mandiri dalam mencari ekonomi, dan hanya mengandalkan orang tua.

3. Melatih Keberanian

Di masa kecil, seorang anak mungkin akan takut pada halusinasinya tentang setan, hantu atau jin. Namun perasaan takut tersebut akan meluas jika tidak dilawan. Semakin dewasa, rasa takutnya pun meluas bukan hanya pada makhluk halus, bahkan kepada manusia lain, takdir, kehidupan dia pun merasakan takut. Rasa takut memang awalnya hanya perasaan, tetapi jika terus terulang bisa menjadi karakter.

Tidak jarang kita mendapati orang dengan karakter penakut seperti ini. Maka dengan membiasakan anak untuk melawan rasa takutnya sejak masih kecil adalah salah satu langkah untuk menciptakan generasi yang kuat dan tak takut pada apapun.

Nah, mulailah dari hal yang paling kecil, dengan membiasakan anak untuk tidur sendiri. Pada awalnya sang anak memang akan merasa gusar, panik, dan perasaan-perasaan negatif lainnya ketika pertama kali pisah ranjang, tetapi lama-kelamaan terbentuk karakter yang kuat dan tak mudah takut pada apapun.

Namun satu hal yang perlu Bunda ketahui, bahwa melatih anak untuk tidur sendiri tidak semudah membalikkan tangan. Bukan hanya kesusahan sang buah hati, tetapi terutama rasa iba pada orang tua yang merasa kasihan terhadap anaknya. Nah, sebelum terlambat, bukankah merasa kasihan di masa kecilnya lebih baik ketimbang merasa kasihan ketika dia telah dewasa kelak.

Sumber gambar: manado.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Di Tengah Keriuhan Alun-Alun Jogja, Jangan Lupakan Bangunan Ini

Di Tengah Keriuhan Alun-Alun Jogja, Jangan Lupakan Bangunan Ini

Membaca Kode PDKT, Ini Tandanya Kalau Doi Tak Serius Denganmu

Membaca Kode PDKT, Ini Tandanya Kalau Doi Tak Serius Denganmu