Al Khawarizmi, Pemain Matematika dan Penemu Bilangan 0
Sumber gambar: hamparan.net
in

Al Khawarizmi, Pemain Matematika dan Penemu Bilangan 0

UGET UGET – Seperti yang kita tahu, kajian matematika modern begitu kompleks dan bersifat abstrak. Melibatkan permainan teorema, postulat, aksioma, yang tentunya akan tampak begitu semrawut dalam pandangan awam. Seringkali, dan barangkali banyak dari Anda yang sudah merasakan, mempelajari matematika adalah proses yang menjemukan dan menimbulkan frustasi. Terlebih bagi para pelajar menengah.

Di sisi lain, matematika juga menjadi pondasi yang kokoh bagi perkembangan teknologi yang kita rasakan saat ini. Melalui kalkulasi di secarik kertas, komputer, atau papan tulis, ilmuwan bisa menemukan keluasan jagat raya.

Membicarakan suatu ilmu tanpa merunut bagaimana perkembangan dan sejarahnya, tentunya akan menjadikan kita sebagai manusia berpikiran kerdil. Tampaknya, tanpa pemikiran seorang intelektual cum matematikawan Islam abad 8, Al Khawarijmi, dunia matematika saat ini akan terlihat berbeda. Di dunia Barat, Al Khawarizmi lebih dikenal dengan nama Al-Cowarizmi, AL Hawamizmi, Al Karismi, Al Goritmi, atau Al Gorizmi.

Biografi Singkat

Muhammad bin Musa Al Khawarizmi atau lebih dikenal sebagai Al Khawarizmi, dilahirkan pada tahun 780 di Khorasan atau Khawarismi, salah satu provinsi yang terletak di timur Persia. Provinsi tersebut merupakan salah satu wilayah yang dilalui Jalur Sutra, yang menghubungkan Tiongkok dan Romawi dan dijadikan sebagai jalur perdagangan terbesar pada masa itu.

Lahir di wilayah yang dilalui Jalur Sutra, menjadi keuntungan dalam pengalaman hidup Khawarizmi muda. Di wilayah tersebut, orang-orang asing yang berlalu-lalang membawa komoditas dagang merupakan hal yang lumrah dalam keseharian. Interaksi pun terjadi antara para pedagang yang berasal dari berbagai daerah, dengan penduduk lokal. Tentu saja, sebagaimana pada umumnya wilayah yang kerap dijadikan jalur perdagangan, interaksi yang terjadi tidak hanya bersifat ekonomis saja. Interaksi sosial, budaya, dan pengetahuan pun turut membekas bagi pengalaman warga pribumi.

Dari pengalaman masa kecilnya yang sarat akan persinggungan dengan budaya dan pengetahuan lain, memungkinkan Khawarizmi muda menjelajah dunia yang digambarkan melalui kisah-kisah para pendatang. Dari kisah-kisah tersebut, imajinasi dan keingintahuan menambah daya minat Khawarizmi pada pengetahuan.

Menjadi Matematikawan

Perjalanan awal Al Khawarizmi di wilayah pengetahuan dimulai dengan menerjemahkan teks-teks berbahasa Yunani dan India saat belajar di Darul Hikmah, Baghdad. Kedatangannya di Baghdad diawali melalui ketertarikan Khalifah Abbasiyah Al Ma’mun saat membaca kajian-kajian yang banyak menggunakan nalar atau logika.

Khalifah meninggikan rasionalisme, dan suatu ketika, dirinya memberikan tugas khusus kepada Khawarizmi. Tugas tersebut ialah untuk membuktikan eksistensi Tuhan melalui kompleksitas dan keindahan kajian Matematika. Dari pertemuan dan tugas khusus dari Khalifah tersebut, popularitas Khawarizmi mulai meningkat di kalangan cendekia dan intelektual muslim Baghdad.

Proses penerjemahan membawa dampak besar bagi kehidupan intelektual di Dunia Islam pada masa itu. Melalui kegiatan tersebut, teks-teks dari Pyhtagoras, Euclid, dan Brahmaguptas bisa dipelajar dan menjadi landasan berpikir di kalangan pelajar. Tidak terkecuali bagi Al Khawarizmi. Perkenalan Al Khawarizmi kepada tokoh-tokoh matematikawan besar di masa lalu tersebut membawanya masuk lebih jauh ke dalam kajian Matematika.

Terjemahan awal Khawarizmi adalah buku matematika dari India yang berdulu, “The Opening of Universe”. Dari buku tersebut, Al Khawarizmi mengadopsi pola bilangan 0 sebagai bagian dari angka. Dan dari situlah dimulai babak baru dari kompleksitas dan kemungkinan tak terbatas yang dimiliki Matematika. Karya-karyanya di bidang Aljabar banyak mempengaruhi pemikiran dari intelektual sesudahnya, seperti Umar Khayam, Leonardo Fibonacci, dan Jacob dari Florensia.

Dengan sistem angka yang dimulai dari 0-9, Al Khawarizmi mengembangkan konsep Aljabar. Melalui sistem Angka, Al Khawarizmi memperbaiki cara hitung Yunani yang terkesan begitu rumit. Pada masa itu, aritmatika dan aljabar Yunani menggunakan kata sebagai simbol pengganti angka. Hasilnya, metode penghitungan yang dilakukan bangsa Yunani lebih bersifat deduktif dan berfungsi dalam pembuktian teorema saja. Dengan kemunculan bilangan yang diajukan Khawarizmi untuk penyelesaian persoalan matematis, bidang Matematika menemukan sisi aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Hingga akhir hidupnya, Khawarizmi telah menulis ratusan karya yang mengkaji Matematika, Geografi, Sejarah, Musik, Astronomi, dan fiqih Madzhab Hanafi. Sepeninggalnya, karya-karya Khawarizmi banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa asing dan dijadikan buku pelajaran di universitas-universitas Eropa.

Meski kini banyak dari naskah asli berbahasa Arab telah hilang, akibat proses sejarah yang begitu panjang, kita tetap harus mensyukuri betapa proses penerjemahan telah membawa nama Al Khawarizmi melalui ruang dan waktu. Sehingga, generasi saat ini bisa mempelajari dan mensyukuri pemikiran-pemikiran cemerlangnya.

Sumber gambar: hamparan.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Jangan Langsung Sampaikan Penilaian Buruk Orang Tua Ke Pacarmu

Jangan Langsung Sampaikan Penilaian Buruk Orang Tua Ke Pacarmu

Bagaimana Turki menjadi Negara Sekuler?

Bagaimana Turki menjadi Negara Sekuler?