Ada Tulisan Apa Hari Ini, Gus? 2
Sumber gambar: instagram.com/mr.tamborine
in

Ada Tulisan Apa Hari Ini, Gus?

UGET UGET – Di antara sekian manusia yang bernama Agus, aku akan bercerita tentang Agus Pribadi. Berkumis tipis. Lahir di Magelang, namun tumbuh dan besar di Yogyakarta. Tidak tinggi, tapi tidak terlalu pendek. Jika berjalan tubuhnya sedikit bungkuk, dan senyum lebar khas laki-laki berkumis tipis.

Jika saja kuliahnya tekun, tokoh kita tentu sudah sarjana. Menenteng ijazah dari Universitas Negeri Yoryakarta yang ternama itu, pulang ke rumah jadi guru Bahasa Indonesia. Atau melanjutkan kuliahnya sambil bercita-cita menjadi dosen, seperti kawannya yang lain.

Agus mungkin punya pandangan lain, atau semacam penyesalan yang tertunda. Ia akhirnya berhenti dari jurusan Sastra Indonesia lantaran nilai tiap semester tak pernah lengkap. Pernah mencoba pindah ke jurusan Sejarah, namun tetap saja kemalasannya masuk kuliah, nilai yang tak masuk, membuatnya benar-benar berhenti kuliah.

Namun di antara ketidak tekunannya pada kuliah, malam-malam masa muda yang habis di warung kopi, perempuan-perempuan yang ia kencani, tak memiliki ijazah, Agus masih sempat belajar menulis.

Beberapa komunitas sastra di Yogyakarta pernah ia tempati, sekadar numpang tidur dan minum kopi, ada pula yang ia seriusi. Di sanalah ia belajar menulis, meski tidak benar-benar serius.

Dan di sinilah tokoh ini sekarang. Di sebuah konter pulsa di selatan perempatan Plengkung Gading Yogyakarta. Konter yang sedikit lebih besar dari kamar kosnya. Seperti karyawan konter pulsa pada umumnya. Datang dan pulang sesuai jam kerja. Bertemu dan melayani pelanggan dari seluruh lapisan masyarakat.

Jika pelanggannya bule, ia akan berinteraksi dengan Bahasa Inggris seadanya. Dengan bahasa Jawa halus yang masih fasih, ia akan menerima semua pelanggan non-bule dengan Bahasa Jawa halus. Kalau pelanggannya menimpali dengan Bahasa Jawa juga, ia lanjutkan. Tapi kalau dijawab dengan Bahasa Indonesia, tokoh kita beralih ke Bahasa Indonesia. Mungkin bukan orang Jawa, pikirnya.

Tak banyak percakapan antara tokoh kita dan pelanggannya. Sedikit tawar menawar, sedikit basa basi. Jika pulsanya sudah terisi, untuk apa berlama-lama di konter pulsa. Toh tujuan utamanya hanya pulsa, bukan bercerita panjang lebar.

Untungnya tokoh kita sempat belajar menulis. Untung pula ada beberapa pelanggan yang punya waktu luang sekadar ketawa ketiwi dengan dirinya. Dari tukang becak, pensiunan perusahaan, dan profesi lain yang tak terlalu takut ditinggal waktu seperti orang yang takut ketinggalan pesawat.

Agus punya senyum khas lelaki berkumis tipis. Kalau ketawa sambil nyengir, matanya mengecil. Dan tokoh kita sungguh pandai mengambil hati lawan bicaranya, mungkin bakat dari kepandaiannya berkencan dengan perempuan. Sambil manggut-manggut, membenarkan, menimpali, lantas tersenyum. Semua pelanggan ia perlakukan layaknya seorang majikan.

Tukang becak mana yang tak senang bercerita jika sudah dianggap majikan. Seharian mengayuh becak, pulang ke rumah mendapat omel lantaran penghasilannya tak mencukupi. Di konter itu mereka menemukan pendengar yang baik dan memperlakukannya layaknya seorang majikan.

Ada Tulisan Apa Hari Ini, Gus?
Sumber gambar: instagram.com/mr.tamborine

Untungnya tokoh kita sempat belajar menulis. Ia tahu merangkai informasi menjadi tulisan yang utuh dan bernilai. Jika sudah bercerita, pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya tersusun layaknya sedang melakukan interview.

Lantas ia akan menulis di sela-sela waktu kosongnya yang sedikit. Tulisannya pun pendek. Hanya satu atau dua halaman. Tidak ubahnya list pelanggan, sedikit informasi tentang pekerjaan mereka, keunikan-keunikan dari para pelanggan itu.

Tapi tulisan-tulisan yang pendek dan tak mendalam itu memiliki karakter yang berbeda. Sederhana namun tak ada duanya, tak kita temukan di dalam majalah atau laman sosial media. Mana ada pegawai konter pulsa yang pernah menulis. Mana ada penulis-penulis kita yang punya titel panjang, teori-teori yang melangit, peduli pada keunikan tukang becak dan pensiunan perusahaan.

Tulisan itu memiliki dunia lain yang tak disentuh oleh penulis lain kecuali Agus Pribadi. Dia menulis orang-orang yang sudah dilupakan entah karena profesi atau usia. Tapi mereka ada, dan punya cerita lain yang sepertinya tak akan kamu temukan di tempat lain.

Aku jadi teringat kata Pramoedya Ananta Toer, bahwa orang dikenang karena tulisannya. Bukan profesi, bukan ijazah, apalagi teori-teori yang melangit di dalam kepalanya. Tokoh kita mungkin hanya penjual pulsa, tapi untungnya dia sempat belajar menulis.

Beberapa tulisannya bisa dilacak di beberapa website. Namun, sesekali datanglah ke konternya, berbincang-bincang. Bisa kau minta tulisannya, lantas ia akan menuliskan tentangmu.

Sumber gambar: instagram.com/mr.tamborine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Sejenak Lupakan Meme Dan Tertawa Bersama Nasrudin Hoja

Sejenak Lupakan Meme Dan Tertawa Bersama Nasrudin Hoja

Sebuah Kota di China Berikan Spesifikasi Tinggi Seorang Sarjana untuk Pekerjaan Manajer Toilet Umum

Sebuah Kota di China Berikan Spesifikasi Tinggi Seorang Sarjana untuk Pekerjaan Manajer Toilet Umum