AC Milan: Harus Berapa Kali Ganti Pelatih untuk Bisa Juara?
Sumber gambar: www.pinterest.com.au
in

AC Milan: Harus Berapa Kali Ganti Pelatih untuk Bisa Juara?

UGETUGET – Tuntutan untuk mengganti pelatih AC Milan kini sedang menjadi perbincangan hangat, khususnya di kalangan fans Milan seantero jagat raya.

Ketidakpuasan mereka dengan kinerja Vincenzo Montella yang belum juga mendongkrak posisi Milan di liga domestik jelas membuat para suporter gerah.

Dalam lima pertandingan terakhir di liga domestik, AC Milan hanya mampu memetik sekali kemenangan saat menghadapi Chievo. Satu pertandingan lainnya ditahan imbang oleh Genoa dan sisanya harus mengaku tunduk dengan tim-tim besar seperti Roma, Inter dan Juventus.

Dampak dari pertandingan tersebut membuat Montella diseret sebagai kambing hitam. Sudah bukan menjadi hal yang baru lagi bagi Rossoneri. Ketika AC Milan sedang terpuruk, selalu saja pelatih yang didesak mundur.

Terhitung sudah enam kali pergantian pelatih yang dilakukan Milan setelah terakhir menjuarai Serie A di musim 2010/2011. Saat itu Milan masih ditangani Massimiliano Allegri. Mlempem di tahun ketiganya bersama Milan, pada Januari 2014 Allegri didepak dan digantikan dengan legenda Milan, Clarence Seedorf.

Hanya bertahan setengah musim, Seedorf pun kemudian diganti dengan mantan pemain Milan yang lain, Filippo Inzaghi. Kesuksesan Inzaghi di tim muda Milan tidak merembet pada tim senior. Alhasil, dengan alasan yang sama (kegagalan), Inzaghi merelakan kursi kepelatihannya diambil alih oleh Sinisa Mihaljlovic.

Belum genap semusim Miha menangani Milan, pada bulan April 2016, dia juga diminta untuk meninggalkan San Siro. Sisa tujuh pertandingan AC Milan di Serie A kala itu dilanjutkan bersama pelatih baru, Cristian Brocchi.

Karir Brocchi sebagai pelatih Milan tidak dilanjutkan di musim berikutnya. Pelatih muda Vincenzo Montella ditunjuk untuk menjadi allenatore Milan untuk musim 2016/2017 dan berlanjut hingga kini.

Optimisme sempat diberikan oleh Montella setelah hasil musim lalu mampu membawa Milan kembali ke kancah Eropa. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi kepada Montella justru membuat fans Milan sangat terluka dengan kegagalan akhir-akhir ini.

Pemandangan yang kerap sekali terlihat dari komentar para suporter hanyalah “Pecat Montella!”, “Montella out!”, “Sack Montella!”, semua seakan menyalahkan Montella untuk kegagalan ini.

Mungkinkah mereka lupa dengan deretan pelatih Milan yang juga gagal sebelum Montella ada? Apakah mereka yakin tim ini bisa juara hanya dengan mengganti pelatih?

Dulu, bisa jadi saya adalah fan milan yang paling sakit hati ketika Allegri dipecat. Bahkan sampai ada yang bilang kalau saya ini fan Allegri, bukan Milan, karena saya sering melakukan pembelaan untuknya. Bukan pembelaan lebih tepatnya, hanya saja masih ada kepercayaan untuk Allegri jika dia bertahan.

Sekarang kita bisa lihat sendiri, keluar dari Milan, Allegri sukses di Juventus. Bahkan bisa membawa Juve ke final Liga Champions musim lalu. Jadi, dulu yang salah Allegri atau memang keseluruhan tim yang belum mumpuni?

Mengganti pelatih memang bisa jadi opsi ketika tim sedang terpuruk, tapi menurut saya, tidak baik jika hal itu selalu jadi opsi pertama. Sudah terlalu banyak Milan mengganti pelatih dan hasilnya selalu mendatangkan kekecewaan. Belajar dari itu dan jangan terlalu terburu-buru menuntut yang baru. Bahkan kalau pun Ancelotti atau Conte datang, belum tentu kita bisa menang, ‘kan?

Sumber gambar: www.pinterest.com.au

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Album Terbaru Isyana “Paradox” Gambarkan Situasi Kontradiktif ugetuget

Album Terbaru Isyana “Paradox” Gambarkan Situasi Kontradiktif

Kuliah di Luar Negeri Why Not

Kuliah di Luar Negeri? Why Not! Patut Diperjuangkan Demi Masa Depan