3 The Movie, Meraba Indonesia Dua Dasawarsa
Sumber gambar: YouTube.com
in

3 The Movie, Meraba Indonesia Dua Dasawarsa

UGET UGET – Indonesia di tahun 2036 mengalami banyak perubahan. Liberalisasi dan sekularisasi menjadi ideologi negara, menggeser agama dari ruang hidup. Hak Asasi Manusia menjadi segalanya. Penggunaan peluru tajam sebagai senjata sudah menjadi ilegal. Aparat menggunakan peluru karet untuk menangkap penjahat dan teroris yang masih tersisa.

Namun, kaum radikal agama masih tetap berjuang mengganti wajah demokrasi. Aparat bergerak hadapi perjuangan tersebut, salah satunya Alif (Cornelio Sunny). Aparat idealis yang bekerja membela kebenaran. Tapi, kematian penjahat oleh aparat sedikit membuka borok konspirasi negara.

Akibat membela idealismenya yang bertentangan dengan kasus tersebut, Alif diskors. Dalam masa hukuman, sahabatnya, Herlam (Abimana Aryasatya) seorang jurnalis yang dipenuhi gejolak idealisme, datang memberikan informasi korban aparat. Informasi yang membawa Alif ke cinta masa lalunya, Laras (Prisia Nasution).

Pertempuran dengan kaum radikal agama masih berlangsung. Dalam pertempuran tersebut, Mimbo (Agus Kuncoro) berdiri sebagai pembela agama yang pada akhirnya mengharuskannya bertarung dengan sahabatnya, Alif. Dirinya tetap berada di tempat terasing, menjadi minoritas.

Film action futuristik berjudul 3, menceritakan kisah Alif, Lam, Mim dalam pertempuran keyakinan. Anggy Umbara selaku sutradara mengemasnya dalam kisah berbalut aksi, drama, penghianatan dan konspirasi. Para penonton pun akan dibuat terus berpikir.

3 The Movie tidak hanya sekedar menjual ‘martial art’, layaknya gaya film aksi Indonesia sekarang. Anggy pun menawarkan sesuatu yang berkelas yaitu “wacana”. Membuat kita sekilas mengingat film The Matrix yang secara jujur diakui Anggy sebagai salah satu film favoritnya.

Tapi lepas dari itu Anggy Umbara berhasil mengemas plot dan narasi dengan sederhana tanpa melupakan detail. Hal inilah yang membuat para penonton tidak merasa bosan. Sebuah hal yang wajar muncul bila menonton film yang menuntut pemahaman lebih dan diisi dengan dialog-dialog panjang.

Teks-teks satir dalam film ini pun membuat penonton bisa menghubungkan dengan kondisi negara. Di mana agama (Islam) disudutkan sebagai teroris, Wartawan yang dibungkam, aparat penegak hukum menjadi “wayang”, lalu pemujaan terhadap liberalisasi dan demokrasi. Seakan-akan penonton dipaksa untuk kembali menyelami kisah di masa Orde Baru.

Sumber gambar: YouTube.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Curhat Masalah Pertengkaran Pada Teman Bikin Hubungan Percintaanmu Tak Kunjung Dewasa

Curhat Masalah Pertengkaran Pada Teman Bikin Hubungan Percintaanmu Tak Kunjung Dewasa

Manfaat Tidur Tengkurap Bagi Bayi

Manfaat Tidur Tengkurap Bagi Bayi